• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 14 NOV 2018 - RP 51.058.936.361

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

ITB Ikut Amati Hilal Jelang 1 Syawal 1439 H

12 Juni 2018 16:46 wib
Salah seorang peneliti Observatorium Bossch Lembang sedang
Salah seorang peneliti Observatorium Bossch Lembang sedang mencoba teleskop yang akan digunakan untuk pengamatan hilal Ramadan 1437 Hijriah/2016, MI/Depi Gunawan.

Jakarta: Institut Teknologi Bandung (ITB) Bandung melalui Observatorium Boscha akan membantu pemerintah dalam melakukan pengamatan hilal menjelang 1 Syawal 1439 Hijriah/2018 Masehi.

Kepala Observatorium Bosscha, Premana Wardayanti Permadi menyatakan, sebagai institusi pendidikan dan penelitian di bidang astronomi, Bosscha selalu ikut melaksanakan kegiatan pengamatan bulan sabit muda pada hampir setiap bulan.

"Begitu juga pada bulan sabit yang ingin diamati pada 14 Juni 2018, yakni bulan sabit penanda beralihnya bulan Ramadan ke bulan Syawal dalam kalender Hijriah 1439 H," kata Dosen yang akrab disapa Nana ini dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa, 12 Juni 2018.

Kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang mengacu kepada siklus periodik fase bulan.   Urutan kemunculan fase bulan digunakan sebagai penanda waktu dan periode dalam kalender lunar (bulan sabit sebagai penanda awal, atau akhir bulan dan bulan purnama menandakan pertengahan).  

"Satu bulan pada kalender lunar ditetapkan sebagai panjang waktu atau periode satu siklus bulan mengeliling Bumi, yakni selama rata-rata 29,53 hari (disebut periode Sinodis)," terang Ketua Kelompok Keahlian Astronomi ITB ini.

Penghitungan hari dalam kalender Hijriah dimulai saat matahari terbenam, sedangkan penetapan awal bulan pada kalender Hijriah dimulai setelah terjadi konjungsi.  Konjungsi adalah saat posisi bulan dan matahari berada pada posisi garis bujur ekliptika yang sama.

Konjungsi ditetapkan sebagai batas astronomis antara bulan yang sedang berlangsung dengan bulan berikutnya dalam sistem kalender lunar.  Pada saat konjungsi, matahari, bulan, dan bumi dalam konfigurasi segaris, sehingga bulan berada pada fase bulan mati diamati dari permukaan Bumi. 

"Peralihan bulan dalam kalender Hijriah menjadi menantang, ketika kita masukkan faktor 'melihat' atau 'sighting' bulan sabit setelah konjungsi terjadi sebagai kriteria," jelas Nana.

Baca : Mendikbud Memilih Salat Idulfitri di Jakarta

Terlepas dari perbedaan kriteria yang muncul di masyarakat, keberhasilan teramatinya bulan sabit muda yang tipis secara astronomis merupakan kombinasi dari banyak faktor penentu.  Antara lain, posisi relatif Bulan terhadap matahari dari posisi tertentu permukaan Bumi, usia bulan, porsi kecerahan bulan (iluminasi), dan tentu saja kondisi langit dan cuaca di sekitar horison.

Tim Observatorium Bosscha melaksanakan pengamatan hilal di Lembang (Jawa Barat) pada 14 Juni 2018. Pengamatan akan dilakukan menjelang sore hari hingga bulan terbenam guna memverifikasi interpretasi data astronomis posisi bulan.

"Dari Observatorium Bosscha, pada 14 Juni 2018, bulan akan diamati terbenam 36 menit 43 detik setelah (menyusul) Matahari," jelas Nana.

Berdasarkan kondisi tersebut, dikombinasikan dengan posisi proyektif Bulan yang dekat dengan matahari (elongasi sekitar 9,24 derajat), dan iluminasi rendah (0,66 persen), maka bulan sulit diamati dengan mata telanjang.

Observatorium Bosscha akan menggunakan bantuan teleskop optik dalam pengamatan ini. Di Indonesia, pihak yang berwenang menentukan awal Ramadan dan Syawal adalah pemerintah Republik Indonesia melalui proses sidang isbat.

Tugas Observatorium Bosscha adalah menyampaikan hasil perhitungan, pengamatan, dan penelitian tentang hilal kepada unit pemerintah yang berwenang jika diperlukan sebagai masukan untuk sidang isbat.


(CEU)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.