Angka Kematian Ibu Indonesia Masih Tinggi

    Medcom - 23 Desember 2019 13:14 WIB
    Angka Kematian Ibu Indonesia Masih Tinggi
    Anggota Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati. Foto: DPR



    Jakarta: Angka kematian ibu (AKI) Indonesia masih tinggi dibandingkaan sejumlah negara ASEAN. Tercatat AKI Indonesia di angka 305 per 100 ribu kelahiran hidup.

    "Masih memprihatinkan. Padahal, rata-rata AKI di ASEAN 197 per 100 ribu kelahiran. Angka AKI Indonesia bahkan tak lebih baik dari Filipina yang menempati posisi kedua dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara," kata Anggota Komisi IX DPR, Kurniasih Mufidayati, melalui keterangna tertulis, Senin, 23 Desember 2019.






    Mufida mengatakan penyadaran sejak dini perlu dilakukan secara menyeluruh. Terutama para ibu yang masih kesulitan akses informasi dan kesehatan. "Angka AKI di desa-desa masih memprihatinkan," ujarnya.

    Menurutnya, penyebab kematian ibu bervariasi. Bisa karena hipertensi, perencanaan kelahiran yang kurang baik, melahirkan di usia rawan atau di usia yang terlalu dini.

    Mufida juga prihatin dengan angka perceraian ibu yang menjadi pekerja migran. Menurut dia, setiap tahun angkanya terus meningkat. 

    Berdasarkan dokumen dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, pengajuan gugat cerai pada 2014 tercatat 2.971 kasus. Meningkat menjadi 3.280 kasus di 2015. Meningkat lagi menjadi 3.579 kasus pada 2016.

    "Setiap tahun ada peningkatan sekitar 300 kasus perceraian yang menimpa perempuan pekerja migran. Pada 2019 diperkirakan sekitar 4.600 kasus,” kata dia.

    Mufida menambahkan banyak perempuan pekerja migran Indonesia (PMI) terbebani dengan banyak masalah keluarga sebelum memutuskan menjadi PMI. Perempuan PMI banyak yang tidak siap secara skill yang menjadi tuntutan pekerjaan dan juga dari sisi bahasa.

    "Di sisi lain kepercayaan diri mereka juga rendah, sehingga cenderung tidak percaya diri jika ada yang mengintimidasi. Tidak mau repot memperpanjang dengan urusan hukum atau melapor ke kepolisian setempat, padahal pada posisi yang benar," papar Mufida.

    Problem makin berat karena banyak dari perempuan PMI jarang pulang ke rumah. Di tanah air, pendidikan anak-anak mereka juga kerap terabaikan.

    "Belum lagi dengan angka perceraian yang sangat tinggi. Hal ini berakibat pada ketidakjelasan hak asuh. Dan anak lagi-lagi menjadi korban," ujarnya. 

    Sebelumnya, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto juga menitikberatkan persoalan angka kematian ibu. 

    "Mengenai pelayanan kesehatan, angka kematian ibu dan anak itu berkaitan. Kalau ketahanan kita turun, runtuh, akan memengaruhi kesehatan global," kata Terawan usai bertemu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, di Jakarta, Jumat, 20 Desember 2019.

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id