Habibie, Batam, dan Masa Depan Kita

    M Studio - 11 Februari 2020 09:00 WIB
    Habibie, Batam, dan Masa Depan Kita
    Haris Junardian Lambey (Foto:Dok)
    BERBICARA tentang Batam, tidak bisa lepas dari sosok BJ Habibe. Karena berawal dari sentuhan tangan dingin Habibie, Batam ditata dan dibangun sampai seperti sekarang ini. Berawal dari sebuah pulau yang hampir kosong di mana ketika itu hanya dihuni 6 ribu jiwa pada 1970an, kini Batam berubah menjadi kota metropolitan dengan penduduk hampir 1,3 juta jiwa.

    Tidak mudah meyakinkan Presiden RI ketika itu, Soeharto. Berkat kegigihan Habibie, akhirnya Soeharto mengiyakan ide Habibe menjadikan Batam sebagai sebuah kota industri pelabuhan yang maju, modern, dan siap bersaing dengan Singapura.

    Konsep awalnya sederhana saja. Habibe sebagai orang yang banyak beraktivitas di luar negeri, sejak puluhan tahun lalu sudah membaca dan memprediksi bahwa pusat episentrum ekonomi dunia suatu saat akan bergeser dari Eropa ke Asia. 

    Habibie sangat tahu betapa krusial dan strategisnya selat Malaka ketika itu yang menjadi salah satu selat tersibuk dan teramai dari tujuh sloc (celah sempit) didunia. 

    Singapura ketika itu sudah mempersiapkan diri menjadi pusat trading, transhipment, services, moneter, dan industri kelas dunia seperti Hong Kong.

    Dan semua terbukti, bagaimana Singapura kemudian menjadi ‘city state’ (negara kota) yang hampir mengatur 80 persen lalu lintas ekonomi dunia di Asia. Melihat hal itu Habibe menjelaskan kembali dalam sebuah seminar di Hotel Melia Panorama 12 tahun lalu, melihat peluang besar Indonesia. 

    Di sinilah kehebatan seorang Habibie. Ketika Singapura tumbuh menjadi sebuah negara kota yang maju, Habibie tidak menganggapnya sebagai ancaman, tapi justru peluang. Keyakinan Habibie itu dikenal dengan teori balin gas. Maksudnya adalah, Habibie sangat tahu akan keterbatasan geografis lahan Singapura yang ketika itu hanya seluas 600an km persegi. 

    Suatu saat, Habibie yakin Singapura akan over load, industrinya akan tumbuh di atas keterbatasan lahannya. Belum lagi untuk pelabuhan, pusat bisnis, dan perkantoran. Maka untuk itulah Habibie melihat Batam yang notabene hanya berjarak 18 km dari Singapura adalah salah satu tempat yang paling cocok untuk menampung luapan dan limpahan kemajuan industri dan ekonomi Singapura.

    Batam yang awalnya hanya berupa depot logistik Pertamina di Pulau Sambu, kemudian dibuat kajian fasibilty study oleh Habibie untuk kemudian disiapkan sebagai sebuah pulau industri pelabuhan, pergudangan (bonded zone), yang sekarang menjadi kawasan free trade zone. Luar biasa. Bayangkan, ide dan gagasan ini sudah pikirkan Habibie sejak 50 tahun lalu. 

    Apa yang menarik dari penjelasan tersebut? Apa relevansinya dengan Batam hari ini? Berikut penulis akan mencoba menyimpulkan dan membuat intisari apa yang semestinya kita ambil manfaat serta hikmahnya.

    1. Yang paling utama mesti kita ambil hikmah dan pelajaran adalah bahwa sebuah bangsa akan lahir, maju, dan berkembang berawal dari sebuah ide dan gagasan. Indonesia hari ini ada karena ide dan gagasan para pemuda yang bersumpah pada 1928. Singapura berjaya hari ini karena ide dan gagasan Lee Kuan Yue, 50 tahun lalu. Begitu juga Batam yang gemerlap hari ini, lahir dari sebuah ide dan gagasan brilian BJ Habibie.

    Artinya adalah semangat perubahan dari seorang Habibie sehingga beliau bisa melakukan lompatan besar yang luar biasa. Dalam teori ilmu kepemimpinan inilah yang disebut dengan pemimpin transformasi. Ada dua jenis kepemimpinan saat ini yang berkembang di dunia, yaitu pemimpin transaksional dan pemimpin transformasional. 

    Penulis melihat Habibie adalah sosok pemimpin yang transformasional. Cirinya adalah selalu berpandangan jauh ke depan (visioner), penuh ide dan gagasan, serta total dalam merealisasikan setiap idenya kepada masyarakat.

    Pada titik ini, kita sangat berharap lahir pemimpin yang transformasional yang juga penuh dengan pertarungan ide serta gagasan bagaimana memikirkan Batam untuk kembali maju menjadi terdepan.

    2. Menjadikan Batam sebagai pesaing Singapura menurut penulis masih sangat logis. Salah satu keunggulan utama Batam adalah letaknya yang sangat strategis berada di jalur perdagangan terpadat dunia. Diperkirakan ada 200 ribu kapal melintas setiap tahunnya di Selat Malaka dan melalui Batam. 70 persen perdagangan minyak dunia juga melintasi Batam. 

    Posisi strategis ini merupakan nikmat dari Allah SWT bagi Indonesia. Tinggal sekarang bagaimana memaksimalkan konsepsi Batam sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan kota pelabuhan perdagangan bebas di Indonesia agar kembali bangkit dan maju.

    3. Batam dahulu pernah menjadi salah satu daerah yang berkonstribusi besar dalam pemasukan devisa negara. Malah pertumbuhan ekonomi Batam pernah menembus angka 24 persen pada 1995 sebelum moneter. Artinya adalah Batam sudah mempunyai brand dan track record yang bagus di mata dunia. Para tenaga kerja Batam juga terkenal mempunyai keahlian dan skill yang mempuni di bidang oil off shore engineering. Ini adalah modal besar Batam untuk kembali me ‘re-branding’ dirinya di mata dunia.

    4. Sudah saatnya kita hentikan polemik dan konflik internal di Batam. Batam harus punya pemimpin yang mampu membalikkan potensi konflik ini menjadi sebuah peluang dan kekuatan untuk memajukan Batam. 

    Penulis termasuk yang mengapresiasi terobosan hukum untuk lahirnya PP Nomor 62 tahun 2019 tentang jabatan ex officio Wali Kota Batam dengan BP Batam. Pekerjaan rumah ke depan ialah bagaimana mensinergikan, mengkoordinasikan, dan mengkolaborasikan dua mesin institusi pemerintahan di Batam agar berdaya guna serta memberikan daya ungkit yang lebih besar dalam mendorong kemajuan Batam.

    5. Sudah saatnya Batam kembali menjadi jati dirinya, yaitu menjadi kota pelabuhan bebas dengan konsep kemaritiman menjadi poros utama ekonominya. Kepulauan Riau terdiri atas 94 persen lautan dan hanya 6 persen daratan. Kalau kita kerucutkan lagi dalam konteks Batam menjadi 3 persen. Kita terlalu lama terjebak dalam konflik dan perebutan sumber daya dalam sebuah koridor titik 3 persen di daratan. 

    Padahal ada di luar sana lautan luas sumber daya maritim yang belum kita garap. Mulai dari sumber daya kelautan, pelabuhan dan alih kapal, perikanan, migas, dan energi terbarukan. Seharusnya sumber daya maritim ini yang mesti kita garap dan eksplorasi kembali. Bagaimana strategi dan caranya nanti akan kita bahas pada tulisan selanjutnya.

    Penulis melihat kalau ide dan gagasan Habibie tentang Batam ini kembali kita refresh, modifikasi, dan injeksi dengan terobosan ekonomi kemaritiman sesuai perkembangan zaman hari ini, insyaAllah Batam akan kembali menjadi ladang ekonomi yang subur, investasi kembali tumbuh dan berdatangan, uang kembali mudah didapat, dan akhirnya Batam dapat kembali menjadi lokomotif ekonomi nasional yang bermanfaat bagi rakyat banyak.

    Untuk itulah mari kita kembali merenung sejenak. Menghayati dan memahami kembali pondasi dasar dan grand design pembangunan Batam yang telah dipersiapkan oleh Habibie. Kalau ada yang kurang sempurna, kita sempurnakan. Ada yang kurang baik, kita perbaiki. InsyaAllah, dengan tekad tranformasi yang kuat, berani melakukan terobosan serta integritas dan dedikasi yang tinggi dari sebuah kepemimpinan Batam, insyaAllah mimpi dan visi Habibie tentang Batam akan bisa bersama kita wujudkan kembali. InsyaAllah.

    Haris Junardian Lambey

    (ROS)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id