Potensi Virus Korona Masuk Indonesia Masih Tinggi

    Anggi Tondi Martaon - 09 Februari 2020 03:00 WIB
    Potensi Virus Korona Masuk Indonesia Masih Tinggi
    WNI dari Wuhan mendarat di bandara Hang Nadim batam sebelum dikarantina di Natuna. Foto: Dok Kemenlu
    Jakarta: Wakil Ketua Komisi IX DPR Nihayatul Wafiroh menyebut jika potensi virus korona masuk ke Indonesia masih tinggi. Hal itu berdasarkan berbagai temuan dan fakta yang berkembang.

    "Saya dalam posisi sangat worry, apalagi tahu komentar dari WHO potensinya sangat besar," kata Nihayatul kepada Medcom.id, Sabtu, 8 Februari 2020.

    Kekhawatiran tersebut semakin besar karena lalu lintas keluar masuk warga negara asing (WNA) ke Indonesia cukup tinggi. Dia mencontohkan kasus WNI yang positif mengidap virus korona di Singapura.

    "Dia terkena tanpa pernah berhubungan atau pergi ke Tiongkok. Itu kan menjadi kita worry," ungkap dia.

    Dia meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan. Terutama di titik-titik pintu masuk Indonesia dengan memasang alat pendeteksi suhu tubuh. 

    "Cuma apakah itu sudah cukup atau tidak. Itu yang harus kita perhatikan," sebut dia.

    Selain itu, pemerintah juga diminta untuk memasifkan informasi wabah virus korona kepada masyarakat. Dia tidak ingin ada informasi yang ditutup-tutupi.

    "Karena masyarakat juga mengetahui kondisi di lapangan seperti apa," ujar dia.

    Potensi Virus Korona Masuk Indonesia Masih Tinggi
    Sekelompok orang tiba di sebuah rumah sakit di Wuhan, Hubei, Tiongkok, 5 Februari 2020. (Foto: AFP/STR)

    Jumlah korban tewas akibat virus korona tipe Novel Coronavirus (2019-nCoV) bertambah menjadi 717 per hari ini, Sabtu 8 Februari 2020. Sementara total infeksi virus korona di seantero Tiongkok telah melampaui 34 ribu.
     
    Dikutip dari AFP, angka kematian akibat virus korona nCoV kini telah melampaui korban tewas wabah Sindrom Pernapasan Akut Berat (SARS) di Tiongkok dan Hong Kong pada 2002-2003. Virus ini diyakini berasal dari sebuah pasar yang menjual beragam hewan liar di Wuhan, provinsi Hubei, pada Desember 2019.
     
    Sejumlah peneliti Tiongkok mengatakan pada Jumat kemarin bahwa trenggiling -- spesies dilindungi yang sisiknya biasa dipakai untuk pengobatan tradisional di Tiongkok -- mungkin adalah pembawa virus tersebut.







    (WHS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id