Catatan Dokter Penjaga Pasien Positif Korona

    Antara - 25 Maret 2020 11:32 WIB
    Catatan Dokter Penjaga Pasien Positif Korona
    Petugas medis menggunakan alat pelindung diri (APD) di dalam Gedung Pinere, RSUP Persahabatan, Jakarta, Rabu (4/3/2020). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
    Jakarta: "Kami Tetap Bekerja Untuk Kalian, Kalian Tetap di Rumah Untuk Kami". Begitu curahan hati petugas medis yang viral demi mengajak masyarakat Indonesia membatasi jarak fisik dan tidak keluar rumah. Mereka tak ini potensi penyebaran virus korona (covid-19) melalui ruang publik semakin besar.
     
    Sebagai garda terdepan, mereka bertugas memastikan pasien-pasien dapat tertangani dengan baik sembari tetap harus menjaga keselamatan nyawa sendiri. Tercatat hingga Selasa, 24 Maret 2020, sebanyak 44 petugas medis di Jakarta terpapar virus usai merawat pasien-pasien covid-19.
     
    Banyak hal dialami petugas medis menangani pasien terinfeksi virus yang menyerang saluran pernafasan itu. Mulai dari kesulitan mendapatkan alat pelindung diri (APD) hingga tidak bisa berkumpul dengan keluarga untuk keselamatan bersama.


    Sempat sendiri

    Berikut kisah Alexander Randy, salah satu dari sekian banyak dokter yang bertugas di rumah sakit rujukan pasien covid-19.  Suara Dokter Randy, sapaanya, terdengar ramah lewat sambungan telepon.

    Tak sedikit pun dapat terdengar kelelahannya meski sudah seminggu bekerja tanpa perbantuan. Memang, ia tergolong baru. Dokter spesialis penyakit dalam ini baru menangani kasus covid-19 dua minggu terakhir, tak lama setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjuk tempatnya mengabdi.

    Dia mengakui fasilitas kegawatdaruratan rumah sakit tempatnya bekerj masih kurang. "Fasilitas gedungnya masih baru. Awalnya memang untuk pengembangan. Tapi berhubung dengan (wabah) covid-19 ini akhirnya dibuka khusus untuk pasien covid-19," katanya.

    Pihak rumah sakitnya berusah meminta bantuan dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Apalagi, Dokter Randy menjadi satu-satunya dokter spesialis dalam yang bertugas menangani pasien dalam pengawasan (PDP) dan positif covid-19 di rumah sakit pada minggu pertamanya.

    Bukan apa-apa, rekan seprofesi yang juga spesialis penyakit dalam justru menjadi orang dalam pengawasan (ODP). Ia bersyukur respons Dinas Kesehatan DKI Jakarta cukup cepat dalam menangani kondisi itu dengan menambahkan dokter perbantuan.

    "Dinkes DKI kasih perbantuan, jadi yang aktif sekarang dua," ujar Randy.

    Catatan Dokter Penjaga Pasien Positif Korona
    Petugas memarkir mobil ambulans di samping ruang isolasi RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso, Sunter, Jakarta Utara. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

    Kekurangan pelindung diri

    Kisahnya pun berlanjut terkait kendala mendapatkan APD untuk menangani pasien sesuai standar pperasional prosedur (SOP) Kementerian Kesehatan RI. Dengan jumlah dokter dan perawat yang bertugas dalam satu hari, rumah sakit tempat Dokter Randy bekerja sempat membatasi hanya 30 pasang APD.

    APD yang mesti dipasang berlapis membuat petugas medis tidak nyaman bekerja dalam sif panjang. Rumah sakit kemudian membatasai waktu kerja. Namun, hal ini membuat APD yang dibutuhkan bertambah lebih banyak.

    Bantuan dari Pemprov DKI sudah tiba. Namun, APD bagi para petugas belum sepenuhnya terjamin karena langkanya barang-barang medis itu.

    Baca: Pemerintah Jamin Anggaran Peralatan Medis untuk Tangani Covid-19

    Jika ada yang menjual pun, harganya terlalu tinggi. Contohnya masker N95 yang memang untuk menyaring partikel berukuran kecil di udara yang sangat dibutuhkan petugas medis.

    "Kita masih berusaha nyari. Kalau ada yang mau nyumbang dan mau membantu kita berharap yang seperti itu ada," ujar Randy.
     
    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan 200 tempat tidur khusus kasus covid-19 di RS tempatnya bekerja. Randy pun mengatakan pasien dapat terus bertambah dan sudah mempersiapkan diri untuk skenario terburuk, dia harus bertahan di Rumah Sakit dan tidak kembali ke rumah.

    Catatan Dokter Penjaga Pasien Positif Korona 
    Petugas medis membuat kampanye #dirumahaja dengan membuat foto sambil memegang tulisan Kami Tetap Bekerja Untuk Kalian, Kalian Tetap di Rumah Untuk Kami", Kamis, 19 Maret 2020. MI/Ramdani

    Hal serupa dialami petugas medis di Wuhan, Tiongkok, pada saat lockdown berlaku. "Kalau sampai (covid-19), banyak dan meluas kita (petugas medis) mau enggak mau akan tetap tinggal di rumah sakit. Kalau misalnya ini menjadi sebuah outbreak yang besar," ujar Randy.
     

    Orang Terkasih

    Hal terberat yang harus dijalani tiap petugas medis perawat pasien covid-19 adalah tak bisa bertemu orang terkasih, terutama keluarga dan sahabat. Petugas medis memilih membatasi diri untuk tidak bertemu dengan orang terkasih demi menghindari penyebaran penyakit.

    "Rata-rata petugas medis termasuk saya, jadi membatasi diri dengan orang lain," kata Randy dengan nada yang terdengar serius.
     
    Petugas medis memang sudah berusaha melindungi diri. Tapi lingkungan rumah sakit tak dapat dapat diprediksi karena penyakit tak kasat mata diketahu yang tahu kuman terbawa atau tidak.
     
    "Karena saya dokter dan kerja di rumah sakit. Saya engga tahu apakah di badan saya penyakitnya ada atau engga," katanya.

    Untungnya, tempat Randy bekerja diberi waktu berjaga yang tidak beruntun. Hal ini mengurangi potensi para petugas terpapar dari covid-19.
     
    Pria berusia 29 tahun itu pun merasa beruntung karena mendapatkan berberkontribusi bagi masyarakat di masa-masa sulit akibat COVID-19.

    "Bagi saya sendiri, saya bisa bantu menenangkan keluarga, teman-teman saya," kata Randy.



    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id