Kemensos Diminta Antisipasi Skenario Terburuk Gempa-Tsunami Pacitan

    Antara - 22 Juli 2021 00:41 WIB
    Kemensos Diminta Antisipasi Skenario Terburuk Gempa-Tsunami Pacitan
    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Medcom.id



    Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta Kementerian Sosial mengantisipasi skenario terburuk gempa dan tsunami di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Pacitan berpotensi diterjang gelombang setinggi 25-28 meter.

    Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan Pacitan dekat dengan teluk yang mengumpulkan tenaga gelombang tinggi dan relatif dekat dengan letak episentrum gempa. Sehingga, Pacitan masuk zona merah.

     



    “Misalnya peta daerah Pacitan, Jawa Timur, warna merah menunjukkan gelombang tinggi 10-14 meter, semakin merah semakin tinggi pula gelombang, warna kuning gelombang 2-3 meter, serta warna hijau gelombang setengah meter,” ujar Dwikorita saat Menteri Sosial Tri Rismaharini memberikan arahan atas kesiapsiagaan bencana secara daring di Jakarta, Rabu, 21 Juli 2021.

    Dwikorita mengatakan ada 10 kajian ilmiah terkait prediksi bencana yang dijabarkan dalam sebuah peta untuk memudahkan memahami dengan tiga warna, yakni merah, kuning, dan hijau. Pada kasus Pacitan, akses zona merah menuju zona hijau kemungkinan tercepat melalui sungai yang mengalir.

    Sayangnya jika terjadi tsunami, sungai tersebut berpotensi menambah dampak kerusakan wilayah. Perlu jalur yang dapat mengintegrasikan penduduk di zona merah agar dapat mengevakuasi diri ke jalur hijau.

    Dwikorita meminta seluruh jajaran di daerah dapat membangun infrastruktur tahan gempa sebagai jalur evakuasi warga. Dia mengingatkan jangan sampai infrastruktur evakuasi tidak kuat menghadapi bencana, seperti yang terjadi di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

    Dia mengatakan infrastruktur evakuasi warga di Palu sebenarnya sudah dipersiapkan sejak 2009-2015. Semua elemen masyarakat juga sudah bersiap menghadapi situasi bencana alam, mulai dari wali kota, Bappeda, Dinas Tata Ruang, pihak sekolah, dan pihak-pihak terkait lainnya.

    Namun, infrastruktur seperti jembatan roboh akibat tak bisa menahan gempa. Alhasil, banyak anak-anak dan orang dewasa yang telah mempelajari cara evakuasi diri menjadi korban. Mereka tak tahu harus berbuat apa saat infrastruktur evakuasi rusak parah.

    Baca: Mensos: Jangan Sepelekan Peringatan Bencana dari BMKG

    Menurut dia, empat langkah strategis kesiapsiagaan bencana yang dipaparkan Menteri Sosial Tri Rismaharini perlu diterapkan sesegera mungkin. Yakni, mempelajari kearifan lokal penduduk untuk mempermudah evakuasi, menggandeng pihak terkait komunikasi publik di saat putus komunikasi, tidak meremehkan prakiraan BMKG, dan agar jajaran Kementerian Sosial dan Dinas Sosial memahami kebutuhan warga setempat yang riskan terhadap dampak bencana untuk mengurangi korban anak-anak, lansia, hingga penyandang disabilitas.

    “Saya setuju dengan apa yang disampaikan Bu Mensos terkait kesiapsiagaan menghadapi bencana yang begitu strategis, serta juga perlu mempersiapkan bangunan yang dirancang tahan guncangan gempa hingga magnitudo 8,7,” kata dia.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id