ASN Nyinyir di Medsos Bisa Dihukum

    Media Indonesia - 15 Oktober 2019 07:10 WIB
    ASN Nyinyir di Medsos Bisa Dihukum
    Ilustrasi. (Thinkstock)
    Jakarta: Ujaran kebencian semakin banyak beredar di media sosial seiring dengan kemajuan teknologi. Masyarakat, termasuk aparatur sipil negara (ASN), bisa dijerat hukuman jika tidak bijak dalam menggunakan medsos.

    Deputi Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur, dan Pengawasan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara, dan Reformasi Birokrasi Muhammad Yusuf Ateh mengatakan hukuman disiplin bagi ASN yang tidak taat diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

    "ASN kan harus setia kepada pemerintah. Itu diatur di PP 53 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, lengkap di situ," ujar Ateh kepada Media Indonesia, Senin, 14 Oktober 2019.

    Tingkat hukuman disiplin bagi ASN yang melanggar dibagi menjadi tiga, yaitu ringan, sedang, dan berat. Hukuman disiplin ringan berupa teguran lisan, tertulis, hingga pernyataan tidak puas secara tertulis.

    Hukuman disiplin sedang, kata Ateh, berupa penundaan kenaikan gaji berkala selama satu tahun, penundaan kenaikan pangkat selama satu tahun, hingga penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama satu tahun.

    Hukuman disiplin berat berupa penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama tiga tahun, pemindahan dalam rangka penurunan jabatan setingkat lebih rendah, pembebasan dari jabatan, pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PNS, hingga pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS.

    Kasus Dandim

    Istri mantan Dandim 1417 Kendari Kolonel (Kav) Hendi Suhendi, Irma Zulkifli Nasution, yang melakukan posting-an nyinyir di media sosial terkait penusukan Menko Polhukam Wiranto, dilaporkan ke Polda Sulawesi Tenggara, Minggu, 13 Oktober 2019.

    Kepala Bidang Humas Polda Sultra AKB Hery Goldenhart mengatakan laporan tersebut dilakukan Denpom Kendari. Penyidik Polda Sultra sedang berkoordinasi dengan pihak TNI untuk menangani kasus istri mantan Dandim 1417 Kendari tersebut.

    Penyidik Polresta Sidoarjo juga dilaporkan masih memeriksa telepon seluler milik FS, istri Peltu Yns, anggota Polisi Militer TNI-AU Lanud Muljono Surabaya, terkait dengan posting-an yang mengunggah konten negatif soal Wiranto di medsos. FS tidak ditahan dan hanya dikenai wajib lapor.

    Selain dicopot sebagai anggota Polisi Militer TNI-AU Lanud Mulyono Surabaya, Peltu Yns menunggu sanksi dari sidang disiplin yang akan digelar pada Senin, 14 Oktober 2019.

    Sementara itu, Kepala Biro Umum dan Keuangan Universitas Tidar Magelang, Among Wiwoho, mengaku sudah menerima teguran dan peringatan lisan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi perihal viralnya komentar nyinyir salah seorang dosen Hendrarto di medsos terkait dengan peristiwa penusukan Wiranto.

    Kemenristek Dikti, kata Among, mengarahkan agar dosen tetap jurusan administrasi negara itu segera diproses.

    "Kami terus terang merasa tidak nyaman dan kecolongan. Yang bersangkutan sudah dipanggil dan masih diperiksa di fakultas. Kami belum menerima hasilnya," ujar Among.

    Hendrarto telah meminta maaf perihal posting-an nyinyirnya beberapa waktu lalu.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id