Daur Ulang Dinilai Lebih Ampuh Mengatasi Masalah Sampah

    Husen Miftahudin - 01 Mei 2019 03:03 WIB
    Daur Ulang Dinilai Lebih Ampuh Mengatasi Masalah Sampah
    Ilustrasi. MI/Susanto
    Jakarta: Pelarangan peredaran kantong plastik diyakini tidak akan menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Indonesia. Pelarangan tersebut justru mengganggu terciptanya circular economy lantaran mengganjal industri daur ulang.

    Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatika, Olefin, dan Plastik (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan pengelolaan sampah dimulai dari hulu atau sejak di lingkup rumah tangga, dapat menciptakan nilai ekonomi. Faktor pencemaran sampah terhadap lingkungan sebenarnya perilaku konsumen yang belum melihat hal ini sebagai nilai ekonomi.

    "Saat ini industri daur ulang plastik hanya jalan 80 persen kapasitasnya, padahal sampah plastik masih banyak. Ini disebabkan karena sampah kita belum terpilah. Biaya sortir atau pilah berkisar 50 persen dari cost recycle," ungkap Fajar di Jakarta, Selasa, 30 April 2019.

    Menurutnya, plastik memiliki banyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Namun, menjadi masalah ketika sudah menjadi sampah. Maka dari itu perlu pembenahan pengelolaan sampah, bukan dengan melarang produk plastik.

    Fajar meyakini industri plastik mendukung penuh pengelolaan sampah dan meminimalisasi jumlah sampah dengan meningkatkan daur ulang berbagai sampah. 

    "Tapi yang penting itu, perubahan perilaku masyarakat yang tidak lagi melihat plastik sebagai sampah, tapi sebagai sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi. Kemudian menerapkan prinsip zero waste to landfill dengan memilah sampah di rumah, daur ulang dan composting, dan lainnya," papar dia.

    Fajar mengungkapkan, beberapa daerah sudah mulai menerapkan inovasi pemanfaatan plastik. Salah satunya Kulonprogo yang mengolah sampah kantong plastik menjadi bahan campuran aspal untuk proyek rehabilitasi jalan penghubung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur di ruas Nanggulan-Sentolo. 

    "Aspal campuran sampah plastik terbukti mampu meningkatkan kualitas jalan yang lebih kuat dan tidak mudah rusak," ujarnya.

    Fajar pun tak sependapat jika produk plastik menjadi biang kerok pencemaran lingkungan. Sebab konsumsi plastik di Indonesia masih terbilang rendah dibandingkan negara lainnya. 

    "Per kapita konsumsi plastik per tahun, Indonesia 23 kilogram (kg), Singapura 60 kg, Thailand 40 kg, Malaysia 50 kg, dan Jepang 100 kg," pungkas dia.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id