• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 14 NOV 2018 - RP 51.058.936.361

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Oknum Guru di Depok Gambaran Bobroknya Tata Kelola Guru

Intan Yunelia - 13 Juni 2018 16:54 wib
Alami krisis guru, sekolah sering diliburkan, MI/Aries Munandar.
Alami krisis guru, sekolah sering diliburkan, MI/Aries Munandar.

Jakarta: Oknum guru pelaku pelecehan seksual di Depok bukti bobroknya sistem perekrutan guru saat ini. Calon guru terkesan asal rekrut tanpa kualifikasi dan standarisasi yang jelas.

“Itu gambaran tata kelola sekolah dan kebijakan rekrutmen yang buruk,” kata Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Edy Suandi Hamid kepada medcom.id, Jakarta, Rabu 13 Juni 2018.

Namun, tidak serta merta hal itu sepenuhnya adalah kesalahan pihak sekolah. Sebab, sekolah pun sering terbentur persoalan kekurangan guru, sehingga terpaksa merekrut dari tenaga honorer.

Di sisi lain, kekurangan guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) pun terganjal keterbatasan dalam kebijakan nasional, seperti penerapan moratorium perekrutan guru PNS beberapa tahun lalu.  

“Ini aneh, karena setiap tahun ribuan bahkan bisa jadi puluhan ribu guru pensiun dan ini tidak ada gantinya,” terang mantan Rektor UII Yogyakarta ini.

Baca: Rekrutmen Oknum Guru Cabul di Depok Diduga Bermasalah

Merekrut guru honorer bukan tanpa kelamahan. Mereka dipaksa mengajar suatu bidang studi tertentu yang mungkin saja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan mereka.

Seperti oknum guru di Depok yang berlatar belakang pendidikan humaniora namun dipaksa mengajar Bahasa Inggris. Kualifikasi dan standarisasi pun dikesampingkan.

“Ini bisa jadi pola rekrutmennya sangat  longgar dan tidak terstandar,” tutur mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) ini.

Dia berpesan agar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) segera memetakan perekrutan kebutuhan guru. Terutama bagi daerah-daerah yang kekurangan guru.

“Seharusnya setiap tahun pengadaan guru rutin dilakukan dengan jumlah yang sesuai untuk mengganti guru pensiun atau yang berhenti karena sesuatu sebab,”pungkas Edy.


(CEU)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.