Hujan Es Berpotensi Terjadi hingga Mei 2021

    Kautsar Widya Prabowo - 03 Maret 2021 19:52 WIB
    Hujan Es Berpotensi Terjadi hingga Mei 2021
    Butiran es ditunjukkan warga usai hujan disertai angin kencang dan es di kawasan Kota Yogyakarta. Medcom.id/ahmad mustaqim



    Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan disertai es diprediksi terus terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Fenomena cuaca itu lazim terjadi saat peralihan musim hujan ke kemarau.

    "Secara umum hujan es berpotensi terjadi bukan hanya di Yogyakarta dan periodenya selama peralihan musim, yaitu sampai sekitar April-Mei," ujar Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG A Fachri Radjab kepada Medcom.id, Rabu, 3 Maret 2021.






    BMKG, kata Fachri, tidak dapat memperkirakan daerah mana saja yang diguyur hujan es. Umumnya hujan es terjadi ketika ada awan kumulonimbus.

    BMKG dapat memperkirakan sejumlah daerah yang berpotensi diselimuti awan kumulonimbus. Seperti Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua.

    "Keberadaan awan kumulonimbus ini bisa dideteksi, namun tidak setiap awan kumulonimbus pasti menghasilkan hujan es," kata dia.

    Baca: Hujan Es Lazim Terjadi Saat Peralihan Musim Hujan ke Kemarau

    Dia meminta masyarakat yang berada di daerah tersebut tetap waspada adanya potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Masyarakat dapat memantau perkembangan cuaca melalui laman resmi BMKG.

    Sebelumnya, hujan es terjadi di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Rabu, 3 Maret 2021. Selain di Kota Yogyakarta, hujan disertai butiran es terjadi di Kabupaten Gunungkidul.

    Kepala Stasiun Klimatologi Sleman, Reni Kraningtyas, menjelaskan hujan disertai es sangat potensial terjadi. Setidaknya, peristiwa serupa juga terjadi di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman.

    "Saat udara hangat, lembab, dan labil terjadi di permukaan bumi, maka pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara tersebut ke atas atau atmosfer dan mengalami pendinginan," kata Reni dalam keterangan tertulis.

    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id