SBY Disebut Patenkan Demokrat, Herman Khaeron: Itu Fitnah!

    Siti Yona Hukmana - 17 April 2021 19:45 WIB
    SBY Disebut Patenkan Demokrat, Herman Khaeron: Itu Fitnah!
    Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat Herman Khaeron dalam Newsmaker Medcom.id dengan tema SBY Patenkan Demokrat Milik Pribadi, Itu Fitnah.



    Jakarta: Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut mematenkan partai berlambang mercy itu sebagai milik pribadi. Kubu SBY membantah mendaftarkan nama dan logo partai sebagai hak kekayaan intelektual (HAKI) atas nama pribadi.

    "Itu salah. Dan saya kira memang kubu sebelah itu senang untuk terus memfitnah, baik itu Partai Demokrat yang sah saat ini maupun terhadap Pak SBY dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum," kata Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat Herman Khaeron dalam Newsmaker Medcom.id dengan tema "SBY Patenkan Demokrat Milik Pribadi, Itu Fitnah", Sabtu, 17 April 2021.






    Menurut Herman, SBY mendaftar Partai Demokrat ke HAKI atas nama pribadi karena dia pimpinan tertinggi. Kemudian, menjadikan Partai Demokrat berikut logo dan atribut sebagai pemilik pengurus yang sah dan terlegitimasi.

    Baca: Kubu Moeldoko Tantang SBY Berdebat

    Kubu SBY mematenkan logo partai guna mencegah digunakan oleh sekelompok orang yang bukan sah pengurus Partai Demokrat. "Jadi, jangan kemudian dibelokkan persoalannya kepada persoalan pribadi," ujar Herman.

    Herman memastikan Partai Demokrat tak akan menjadi milik pribadi walau merek tersebut didaftarkan SBY. Nama SBY digunakan karena dia merupakan Ketua Majelis Tinggi.

    "Kalau kami yang mendaftarkan siapa yang mendaftarkan? Yang penting, itu menjadi hak pengurus yang sah. Tidak mungkin Pak SBY akan mengambil alih secara pribadi. Itu menurut saya informasi yang dipelintir," ujar dia.

    Herman mengaku akan menyampaikan secara resmi dalam konferensi pers terkait pendaftaran nama dan logo partai sebagai hak kekayaan intelektual. Namun, dia belum dapat memastikan waktunya.

    "Nanti dibaca secara utuh hasilnya, sehingga tidak ada salah interpretasi dan salah untuk menyampaikan kepada publik," ungkap Herman," kata Herman.

    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id