Media Indonesia Uji Wawancara Kursi Kosong Najwa Shihab, Hasilnya: Bukan Produk Jurnalistik!

    Fachri Audhia Hafiez - 07 Oktober 2020 23:46 WIB
    Media Indonesia Uji Wawancara Kursi Kosong Najwa Shihab, Hasilnya: Bukan Produk Jurnalistik!
    Editor Harian Media Indonesia Henri Siagian. Dok. Media Indonesia
    Jakarta: Harian Media Indonesia mencoba menguji apakah wawancara Najwa Shihab dengan kursi kosong bisa dikategorikan produk jurnalistik. Hasilnya: Bukan produk jurnalistik!

    Editor Harian Media Indonesia Henri Siagian menarik simpulan itu dari sejumlah variabel. Henri menjelaskan wartawan sejatinya membutuhkan jawaban narasumber. Namun, ada rambu-rambu yang mesti dipatuhi, seperti menghormati kapasitas narasumber yang menolak diwawancarai.

    "Berdasarkan pedoman jurnalistik yang dikeluarkan oleh Aliansi Jurnalis Independen Jakarta (AJI Jakarta), jurnalis harus menghargai hak narasumber untuk menolak, tidak bersedia dengan cara ataupun tidak berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan perusahaan media," tutur Henri.

    Wawancara Najwa Shihab dengan kursi kosong itu viral di media sosial Youtube. Wawancara itu ditujukan untuk Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto yang tak kunjung muncul untuk menjelaskan soal pandemi covid-19.

    Baca: Salah Kaprah Kalau Najwa Shihab Sebut Terawan Harus Selalu Muncul

    Henri lantas mengutip tulisan Anggota Dewan Redaksi Media Group Usman Kansong. Menurutnya, aksi wawancara Najwa Shihab serupa dengan pembawa acara televisi Sky News di Inggris, Kay Burley. Kay memuntahkan rentetan pertanyaan ke kursi kosong yang seharusnya menjadi tempat duduk Ketua Partai Konservatif Inggris, James Cleverly.

    Anggapan bahwa yang dilakukan Najwa Shihab sebagai wawancara imajiner juga tidak tepat. Wawancara imajiner pernah mengemuka pada 1990-an yang dilakukan oleh Christianto Wibisono di tabloid Detak.

    Christianto mewawancarai Presiden Pertama Indonesia Soekarno atau Bung Karno yang telah tiada. Pertanyaan dari Christianto, dijawab oleh Bung Karno. Padahal, jawaban tersebut hasil pemikiran Christianto dengan segala pemahamannya terhadap Soekarno. Dengan demikian, teknik wawancara tersebut hanya bisa dikategorikan sebagai opini bukan karya jurnalistik.

    "Sedangkan dalam kasus Najwa Shihab Menteri Kesehatan Terawan masih hidup dan sehat walafiat. Sehingga sebenarnya sangat mungkin untuk diwawancarai. Walaupun dia tidak hadir, itu bisa jadi karena perencanaan atau timnya Najwa Shihab kurang telaten dalam menghubungi Terawan," tegas Henri.

    (UWA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id