KNKT Bantah CVR Lion Air JT-610 Bocor

    Candra Yuri Nuralam - 21 Maret 2019 17:12 WIB
    KNKT Bantah CVR Lion Air JT-610 Bocor
    Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono (tengah)--Medcom.id/Candra Yuri Nuralam.
    Jakarta: Kantor media asing Reuters membeberkan hasil black box Lion Air JT-610 empat bulan lalu. Terkait dengan itu, KNKT membantah rekaman itu bocor ke publik.

    Dalam pemberitaannya yang berjudul 'Ekclusive: Black Box Reveals Clues to Lion Air Crash', Reuters menyebutkan bahwa para Pilot panik mencari petunjuk mengapa pesawatnya terus menukik. Reuters mengklaim mendengar isi rekaman CVR dari tiga sumber anonim.

    Pemberitaan dari Kantor Media asing itu langsung menyita perhatian dunia. KNKT pun membantah bahwa rekaman itu bocor.

    "Di media telah beredar berita yang menyebut sebagai isi dari CVR penerbangan JT610 dan penerbangan JT043. Penerbangan JT043 sudah terhapus sehingga sudah tidak ada lagi di CVR," kata Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono di Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Maret 2019.

    Soerjanto menambahkan, rekaman yang diberitakan Reuters tidak 100 persen benar. Itu, kata dia, sedikit berbeda dengan aslinya.

    "Isi rekaman CVR tidak sama dengan apa yang beredar di media, sehingga menurut KNKT isi beita itu adalah opini seseorang atau beberapa orang yang dibuat seolah mirip dengan isi CVR," ujar Soerjanto.

    Baca: KNKT Butuh 2 Minggu Membaca Black Box

    Perbedaan ini juga diklaim Ketua Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo. Salah satu perbedaan saat kepanikan adalah teriakan takbir saat jatuhnya pesawat.

    "Di media (Reuters) ada katanya teriakan 'Allahuakbar' padahal enggak ada yang bilang," tutur Nurcahyo.

    Nurcahyo mengklaim tidak ada yang memiliki rekaman CVR Lion Air. Rekaman itu, kata dia, tersimpan dalam server KNKT yang tidak terhubung dengan koneksi internet.

    Rekaman itu juga tidak pernah dipublikasikan. Yang pernah mendengarkan, kata Nurcahyo, hanya KNKT, FAA Amerika dan pihak Lion Air.

    "Lion pernah kami beri izin dengar, namun tidak boleh bawa alat rekam, dengar saja tidak diberikan," ujar Nurcahyo.

    Sebelumnya, pada hari Rabu 20 Maret 2019, Kantor media asing Reuters mempublikasikan hasil investigasinya terkain insiden jatuhnya Pesawat Lion Air di Tanjung Karawang empat bulan lalu. Reuters mendapatkan tiga sumber anonim yang menceritakan kejadian tersebut.

    Sumber Reuters mengatakan pilot meminta kopilot untuk mengecek buku pegangan referensi cepat berisikan ceklis untuk peristiwa abnormal. Saat itu, sistem memberi tahu pilot kondisi pesawat sttall dan mendorong pesawat kebawah sebagai respon.

    Pilot langsung mencoba menaikkan pesawat namun sistem tetap berbunyi sttall. Akibatnya sistem trim memaksa hidung pesawat terdorong ke bawah.

    Saat itu, pilot mengira penyebannya hanya masalah kecepatan. Namun, trim sedang bergerak ke bawah.

    Sekitar satu menit sebelum pesawat hilang dari radar, pilot sempat meminta ATC untuk membersihkan jalur di bawah 3000 kaki dan meminta naik ke 5000 kaki. Pilot pada saat itu sedang mencari prosedur yang tepat dengan buku pegangan.

    "Saat itu kondisinya seperti hujan. Seperti ada 100 pertanyaan dan ketika waktu habis kamu hanya bisa menjawab 75 pertanyaan dan mulai panik. Saat itu seperti kondisi 'waktu habis'," ujar sumber Reuters dalam video.



    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id