Pemerintah Diminta Percepat Tes Massal PCR

    Intan Yunelia - 11 Mei 2020 16:02 WIB
    Pemerintah Diminta Percepat Tes Massal PCR
    Petugas melakukan pemeriksaan cepat covid-19 (Foto:Antara/Didik Suhartono)
    Jakarta: Pemerintah diminta mempercepat tes massal Polymerase Chain Reaction (PCR) secara masif. Hal ini guna mengetahui peta penyebaran korona (covid-19) di Tanah Air. 

    "Jika tes massif berbasis PCR ini tidak segera ditingkatkan, saya khawatir, akhir dari pandemi Covid-19 di Indonesia ini masih akan berlangsung panjang dan periode pemulihan masih akan lama," kata Anggota Komisi IX DPR RI Kurniasih Mufidayati dalam siaran pers yang diterima Medcom.id, Senin, 11 Mei 2020.

    Pemerintah juga harus menyiapkan alat pendukung berupa penyediaan reagen, virus transport media (VTM) maupun petugas lab yang sudah melalui pelatihan untuk melakukan pengujian. 

    Sumber daya yang ada perlu dikerahkan untuk meningkatkan jumlah pengujian agar besaran dan wilayah penyebaran covid-19 bisa segera diketahui dan dapat dilakukan langkah-langkah yang efektif untuk memutus mata rantai penyebaran.

    "Selain tes masif PCR, pemerintah juga harus mempercepat hasil tes laboratorium. Masih banyak korban yang meninggal, terpaksa dimakamkan dengan proses standard operating procedure (SOP) covid-19, karena hasil tesnya belum keluar. Demikian juga pasien maupun keluarga pasien positif covid-19 masih harus lama menunggu hasil tes yang menyebabkan aktivitasnya terhambat," ujar Mufida.

    Ia menjabarkan sampai saat ini perbandingan pengujian PCR di Indonesia masih rendah. Sementara, banyak pihak lebih banyak melakukan rapid test dengan antigen yang akurasinya tidak sekuat tes PCR. 

    Misalnya, per 10 Mei 2020, berdasarkan data Worldmeter, tes PCR di Indonesia baru sekitar 579 tes per 1 juta populasi. Sementara, Malaysia sudah mencapai 7.938 tes per 1 juta populasi. 

    “Filipina yang kondisinya relatif sama dengan kita, sudah mampu melakukan 1489 tes per 1 juta penduduk. Bahkan Colombia sudah melakukan 2.848 tes per 1 juta penduduk," ucap Mufida.

    Sampai tanggal 10 Mei 2020 atau dua bulan delapan hari dari pengumuman kasus pertama covid-19 di Indonesia, pengujian dengan PCR di Indonesia baru dilakukan terhadap 113.452 spesimen. Jumlah angka positifnya mencapai 12,4 persen.

    Menurut Mufida, idealnya uji PCR dilakukan terhadap 1 persen penduduk suatu negara. Indonesia dengan jumlah penduduk 270 juta penduduk, idealnya tes PCR dilakukan terhadap 2,7 sampai 3 juta spesimen yang tersebar di daerah-daerah yang sidah ditemukan kasus positif.

    "Apalagi saat ini laboratorium yang sudah bisa melakukan pengujian dengan PCR ini sudah mencapai 70 lab meskipun masih banyak berada di kota-kota besar khususnya di Jakarta dan pulau Jawa," katanya.

    Mufida juga meminta pemerintah mendisiplinkan penerapan PSBB. Apalagi jumlah korban pasien positif Covid-19 per 9 Mei 2020 sudah mencapai angka tertinggi yaitu 533 kasus.

    "Bukan malah melakukan relaksasi. Mengingat angka penambahan pasien covid masih terus meningkat tajam tiap hari di akhir-akhir ini," ujarnya.



    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id