Mafindo: Masyarakat Tidak Mau Divaksinasi Takut Efek Samping

    Antara - 30 November 2021 21:18 WIB
    Mafindo: Masyarakat Tidak Mau Divaksinasi Takut Efek Samping
    Ilustrasi: Medcom.id



    Jakarta: Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) mengungkapkan sebagian besar masyarakat di daerah tidak mau mengikuti vaksinasi covid-19 lantaran takut dengan efek samping. Survei Mafindo menemukan publik mengkhawatirkan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI).

    "Satu hal menarik yang kita lakukan survei, kenapa Anda belum divaksin karena takut efek samping. Ini menjadi salah satu faktor terbesar yang mencegah masyarakat dari divaksinasi," kata Founder dan Presidium Mafindo Harry Sufehmi dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa, 30 November 2021.

     



    Selain itu, survei menunjukkan alasan orang belum divaksinasi karena kesulitan mencari lokasi penyuntikan. Hal ini terjadi pada masyarakat di daerah.

    Menurut dia, Mafindo sudah berusaha menjelaskan seputar KIPI kepada masyarakat. KIPI sejatinya bisa dihindari.

    Baca: Vaksinasi Warga Pedesaan di Sulsel Terkendala Maraknya Hoaks

    "Bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan, tinggal mengikuti instruksi petugas, misalnya sudah sarapan atau belum, sudah istirahat cukup atau belum, apakah sedang haid atau tidak sehingga resiko KIPI bisa diminimalisasi," kata dia.

    Di sisi lain, Harry menyebut kelompok antivaksin di Indonesia sekitar 4,2 juta orang. Jumlah ini termasuk sedikit jika dibandingkan dengan silent majority atau orang-orang yang tidak merespons baik pro atau kontra terhadap propaganda antivaksin, yaitu 74 juta orang.

    Harry mengatakan kelompok silent majority sebetulnya bisa berbuat lebih untuk meningkatkan cakupan vaksinasi. Mereka perlu turut berperan dalam melawan kabar hoaks terkait vaksinasi.

    Mafindo juga menemukan masyarakat Indonesia masih mengandalkan televisi sebagai media yang paling dipercaya dalam mendapatkan suatu kabar atau informasi. Tidak semua masyarakat Indonesia mengakses media sosial dan termakan hoaks tentang vaksin.

    Kendati demikian, Harry mengatakan masyarakat Indonesia sudah mulai bangkit dan melawan hoaks dan propaganda terkait covid-19 dan vaksinasi pada akhir 2020. Faktor inilah yang disebutnya turut berpengaruh pada partisipasi masyarakat dalam vaksinasi.

    Vaksin untuk Indonesia

    Dalam upaya mendukung vaksinasi di Tanah Air, Media Group bersama Slank menggelorakan kampanye sosial bertajuk "Vaksin untuk Indonesia". Kampanye ini adalah upaya untuk bersama-sama bangkit dari pandemi dan memupuk optimisme menuju normal baru dengan terus menjaga kesehatan fisik dan mental. Vaksin dalam tajuk ini bukan saja berarti "obat" atau "anti-virus", tetapi juga upaya untuk menguatkan kembali mental dan spirit kita di tengah kesulitan akibat pandemi.

    "Slank dan Media Group bikin gerakan yang bertema 'Vaksin untuk Indonesia'. Berharap lewat musik dan dialog, acara ini bisa menyemangati dampak pandemi yang mengenai kehidupan kita, supaya tetap semangat. Kita hibur supaya senang, supaya imun kita naik juga. Mengajak masyarakat untuk jangan takut untuk divaksin. Ini salah satu solusi untuk lepas dari pandemi," terang drummer Slank, Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim.

    Program "Vaksin untuk Indonesia" tayang di Metro TV setiap hari Jumat, pukul 20:05 WIB. Dalam tayangan ini, Slank bukan saja menyuguhkan musik semata, tetapi juga menampilkan perjalanan ke sejumlah tempat dan berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang sosial.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id