Abdul Kohar
    Abdul Kohar Direktur Pemberitaan Medcom.id

    Menikam Syekh Jaber

    Abdul Kohar - 19 September 2020 14:48 WIB
    Menikam Syekh Jaber
    Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. MI/Ebet
    NAMA lengkapnya Ali Saleh Muhammad Ali. Pendakwah santun yang lahir di Madinah, Arab Saudi, pada 3 Februari 1976, tersebut dikenal dengan panggilan Syekh Ali Jaber.

    Namanya mendadak viral karena Syekh Ali Jaber menjadi korban penusukan seorang pemuda nekat bernama Alfin Andrian. Pendakwah yang sudah hafal 30 juz Al Quran sejak kanak-kanak, itu ditusuk pada bagian lengan kanan saat sedang berceramah di acara 'Kajian Minggu dan Wisuda Tahfiz Al-qur'an' di Masjid Falahuddin, Sukajawa, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, pada Minggu, 13 September 2020. 

    Namun, yang membuat namanya kian melambung justru aksi simpatiknya terhadap pelaku penusukan. Dalam kondisi luka yang masih menganga, Syekh Jaber sempat menolong Alfin Andrian, sang penusuk, saat pemuda itu dihakimi jemaah yang hadir dalam acara. 

    "Usai saya ditikam pisau itu, kemudian pelaku ditangkap jemaah dan langsung dihakimi. Saya turun dari mimbar untuk menolong pelaku. Saya minta jemaah berhenti menghakiminya, bahkan ada salah satu jemaah yang marah karena saya melarang," ujar Syekh Ali Jaber sebagaimana dikutip dari Lampung Post.

    Syekh Ali Jaber mengungkapkan menyelamatkan pelaku dari amukan massa bukan tanpa alasan. Menurut dia, meski berbuat salah, pelaku juga manusia yang harus ditolong. "Ini adalah tugas kita, akhlak terpuji ketika kita dapat ujian. Apalagi di hadapan musuh, di sinilah akhlak kita diuji, apakah kita bisa lulus atau gagal," katanya. 

    "Allah memberikan ketenangan bukan karena saya hebat dan bukan mempunyai kelebihan apa-apa, tapi Allah memberikan kekuatan di hati dan itu yang selalu saya jaga setiap hari," ia menambahkan.

    Syekh Ali amat terganggu ketika orang yang menyakitinya itu ditarik dan diseret beramai-ramai. Mata batinnya memberontak saat menyaksikan ada manusia diperlakukan laiknya karung. Maka, ustaz yang sejak 2012 mendapat kewarganegaraan Indonesia itu pun turun tangan membantunya.

    Bukan kali ini saja Syekh Ali Jaber turun tangan dalam aksi menyelamatkan manusia. Ia merupakan salah satu pendakwah yang getol menyeru umat agar mengikuti anjuran pemerintah melalui Gugus Tugas Penanganan Covid-19 (kini bersalin rupa menjadi Satgas Penanganan Covid-19) untuk beribadah di rumah. Berulang kali Syekh Jaber menyebutkan bahwa virus korona berbahaya, dan menghindari bahaya ialah perintah agama.

    Bukan sekadar mengajak umat untuk mencintai Kitab Suci, Syekh Jaber juga meminta kita mengasihi sesama dan berikhtiar sekuat tenaga untuk menyelamatkan kehidupan. Ia mengajak kita untuk tak sekadar berbasa-basi dengan bertegur sapa, tapi juga dengan tulus berjuang untuk manusia dan kemanusiaan.

    Namun, kondisi sebaliknya terjadi saat tafsir makna atas peristiwa penusukan itu hinggap ke pikiran para petualang politik dan kaum partisan. Di tangan mereka, penusukan atas pendakwah itu teramat sayang untuk dilewatkan sekadar peristiwa pidana, alih-alih menjadikannya gorengan isu benturan identitas yang mengasyikkan. Ia seperti ikan yang menemukan kolamnya.

    Hanya berselang beberapa jam setelah penusukan, di dunia maya mulai berseliweran narasi palsu tentang siapa pelaku dan mengapa ia secara brutal nekat menusuk Syekh Jaber saat sedang berdakwah di atas mimbar. Produsen hoaks itu menyebarkan kabar bahwa sang pelaku pernah berfoto bersama dengan sejumlah pemuda lainnya sembari mengibarkan bendera warna merah berlogo palu arit lambang Partai Komunis Indonesia (PKI) di atas puncak gunung.

    Akun Facebook atas nama Boylet Z membagikan foto tersebut pada 15 September 2020.

    Dari hasil penelusuran tim Cek Fakta Medcom.id menunjukkan bahwa klaim foto pelaku penusukan Syekh Ali Jaber dengan bendera PKI itu salah, hoaks. Faktanya, foto tersebut kerap dijadikan bahan berita hoaks yang sudah beredar sejak 2015.

    Sebelumnya, foto tersebut pernah dijadikan bahan berita hoaks yang menarasikan putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep, merupakan salah satu orang dalam foto tersebut dan beredar di sejumlah Twitter.

    Klaim foto pelaku penusukan Syekh Ali Jaber dengan bendera PKI itu masuk kategori hoaks jenis misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
     
    Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya. Harapannya, tercipta benturan horizontal di masyarakat buah dari sisa-sisa pembelahan akibat kontestasi politik lama.

    Begitulah era post truth yang lebih mengagungkan emosi ketimbang akal sehat. Kebohongan pun akan terus dibiakkan dan digemakan hingga akhirnya diimani sebagai kebenaran.

    Di tangan petualang politik, peristiwa penusukan pendakwah bisa menjadi alat mudah untuk mendulang popularitas. Lihatlah bagaimana di sebuah stasiun televisi, seorang politikus mulai mengait-ngaitkan penikaman terhadap Syekh Ali Jaber dengan 'kriminalisasi ulama' dan 'persekusi terhadap ulama'. Padahal, polisi masih bekerja untuk menyelidiki adakah motif selain pengakuan tersangka bahwa ia terganggu dengan suara dakwah yang menurut dia 'berisik' karena menggunakan pelantang suara.

    Sang politikus tidak peduli bahwa kecenderungan menggunakan cara-cara populisme dan artifisial (post-truth) dalam berpolitik itu merusak demokrasi. Sosiolog dan pengamat demokrasi Inggris, Colin Crouch, mengistilahkan kecenderungan itu sebagai post-democracy. Dalam kondisi post-democracy pertarungan ide tidak diperlukan, yang terpenting adalah bagaimana membangun pencitraan dan memenangi emosi konstituen.

    Petualang politik juga memanfaatkan kecenderungan people ignorance, yakni antusiasme berpolitik masyarakat yang menurun. Masyarakat pada umumnya tidak mau memahami duduk persoalan, hanya terpaku pada fenomena di permukaan. Maka, celah ini mereka manfaatkan dengan memainkan frasa, misalnya, 'kriminalisasi ulama' dan 'memersekusi ulama'. Adapun produsen hoaks memanfaatkan rendahnya literasi media untuk memainkan emosi publik melalui isu-isu identitas di jejaring media sosial.

    Padahal, sehari pascapenyerangan, Syekh Ali Jaber secara terang-benderang berseru agar kita percayakan kasus itu kepada penegak hukum. "Jangan dikait-kaitkan dengan isu politik. Umat jangan terprovokasi," tegasnya kepada Lampung Post.

    Saatnya publik lebih cerdas menentukan, percaya kepada ajakan Syekh Jaber atau tunduk pada tipu daya para produsen informasi palsu dan petualang politik.[]


    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id