Inovasi dan Humas Dinilai Mampu Membentuk Citra Kepolisian

    Medcom - 08 Januari 2020 08:54 WIB
    Inovasi dan Humas Dinilai Mampu Membentuk Citra Kepolisian
    Mantan Tenaga Ahli Menko Polhukam, M Fariza Y Irawady (kelima dari kanan). Foto: Istimewa
    Jakarta: Citra sebuah institusi termasuk kepolisian sangat dipengaruhi dengan kepuasan pengguna. Tingkat kepuasan terbentuk akibat hubungan masyarakat (humas) serta inovasi pelayanan berjalan baik.

    “Jadi, inovasi pelayanan dan kegiatan humas berpengaruh terhadap pembentukan citra institusi bila memberikan kepuasan kepada penggunanya," ujar mantan Tenaga Ahli Menko Polhukam, M Fariza Y Irawady pada disertasi berjudul "Inovasi Pelayanan dan Hubungan Masyarakat dalam Mewujudkan Citra Institusi melalui Kepuasan Pengguna-Studi pada Pengguna Inovasi Pelayanan di Insitusi Polri", di Universitas Padjadjaran, Dipati Ukur, Bandung, Rabu, 8 Januari 2020.

    Fariza mengatakan selama ini belum ada studi yang spesifik mengkaji pengembangan citra institusi publik dari sisi inovasi pelayanan, dan humas dengan pemanfaatan teknologi informasi. Khususnya, pada Kepolisian.

    Fariza melakukan kajian doktoral menemukan kesenjangan teori di atas (theoritical gap). Dia juga mencermati kesenjangan empiris antara lain temuan Ombudsman dari 2007-2017 yang menyebutkan permasalahan terbesar pelayanan publik didefinisikan sebagai malaadministrasi. Artinya, ada penundaan yang berlarut-larut dalam pelayanan publik.

    Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB), lanjut dia, sudah berupaya mengatasinya dengan melakukan lomba inovasi pelayanan publik sejak beberapa tahun silam. Perlombaan ini menghasilkan top inovator pelayanan publik dan dapat direplikasi oleh pelayanan publik lainnya. 

    Menurut Fariza, kepolisian juga sudah berupaya melakukan pembenahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publiknya. Antara lain, Polres Malang Kota mengembangkan aplikasi Panic Botton on Hand (PBOH). 

    Aplikasi berbasis android ini memungkinkan pengguna yang mengunduh untuk melaporkan jika mengalami atau melihat kejahatan dengan memilih tombol panik. Dalam waktu singkat, petugas Polri terdekat akan mendatangi pelapor dan memberikan bantuan kepolisian. Aplikasi ini salah satu top inovator pelayanan publik di Kemen PAN-RB pada 2016. Kemanfaatan inovasi ini membuat beberapa Polres lain melakukan replikasi.

    Kajian ini melibatkan data sekunder dari database Kepolisian Resor (Polres) di wilayah Polda Jawa Timur, untuk melengkapi data primer 316 responden pengguna Panic Button on Hand di empat Polres di wilayah Jawa Timur. Yakni, Polres Malang Kota, Polres lamongan, Polres Situbondo, dan Polres Bojonegoro. 

    Sampel studi dihitung dengan metode simple random sampling dari total populasi pengguna sebanyak 11 ribu orang. Data primer para responden diolah dengan prosedur Structural Equation Model (SEM).

    Dalam riset ini, terang Fariza publik akan menerima dan melaksanakan Panic Botton on Hand sesuai grand design yang diinginkan, bila Polri mampu menjalankan kegiatan humas dengan inovasi teknologi secara efektif. Dampak lanjutannya ialah publik akan menikmati layanan Polri lebih maksimal sehingga perspektif publik juga akan lebih positif.

    Fariza merekomendasikan agar implementasi program Panic Botton on Hand dapat diperluas ke seluruh Indonesia dan melibatkan unit-unit Kepolisian terdepan, seperti polsek. Dengan begitu, layanan Polri berbasis teknologi informasi ini dapat lebih dekat dengan publik.

    Menurut Fariza, temuan di disertasinya ini juga menunjukkan upaya Kementerian PAN-RB melakukan lomba inovasi pelayanan publik memberikan dorongan positif. Implementasi dari visi Polri yang dibentuk sejak era kepemimpinan Jenderal (Purn) M. Tito Karnavian pada 2016-2019, dan Kapolri Jenderal Idham Azis, yaitu profesional, modern, dan terpercaya (Promoter) berjalan baik. 

    Ketua Sidang yang juga menjabat Ketua Prodi Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Sulaeman Rahman mengatakan, Fariza lulus dengan predikat sangat memuaskan meski mampu mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4. Karena waktu studi yang melewati enam semester membuat Fariza tak mendapatkan predikat Cum Laude. 

    Dalam pengukuhan gelar doktor di bidang ilmu Manajemen, Fariza menyampaikan temuan studinya di hadapan para promotor, yaitu Prof. Popy Rufaidah;  Prof. Dr. H. Yuyus Suryana; dan Dr. Arief Helmi. Dia juga diuji Prof. Dr. Nury Effendi selaku representasi guru besar, dan Dr. Hj. Meydia Hasan; Dr. Rita Komaladewi, dan Dr. Nina Kurnia Hikmawati, selaku oponen ahli. 

    Sidang terbuka ini juga dihadiri Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Wiranto, Deputi Palayanan Publik Kementerian PAN-RB Prof Dr. Diah Natalisa dan para asisten deputinya, Deputi Komunkasi Informasi dan Aparatur Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Marsekal Muda Rus Nurhadi dan asisten deputinya Muztahidin.

    Kemudian, pejabat Divisi Humas Mabes Polri yang diwakili Kepala Bagian Produk Kreatif Kombes Gatot Reply, dan Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Firdaus Ali.

    (AZF)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id