UMP DKI 2021 Diperkirakan Tidak Naik

    Hilda Julaika - 21 Oktober 2020 08:32 WIB
    UMP DKI 2021 Diperkirakan Tidak Naik
    Ilustrasi uang. AFP/Bay Ismoyo
    Jakarta: Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI pada 2021 diprediksi tidak naik. Ini dampak dari pandemi covid-19 yang memukul perekonomian Indonesia.

    Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang menjelaskan Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 terkontraksi minus 2 persen. Di sisi lain, inflasi tahunan berdasarkan data Bank Indonesia sampai dengan Oktober sebesar 1,41 persen.

    "Dengan data pertumbuhan ekonomi dan inflasi 2020, kenaikan UMP 2021 diperkirakan 0 persen," kata Sarman dalam keterangan tertulis, Rabu, 21 Oktober 2020.

    Menurut dia, hal ini sesuatu yang wajar karena pandemi covid-19 telah memukul dunia usaha. Banyak usaha kecil menengah (UKM) yang tutup, terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK), pekerja dirumahkan, cash flow pengusaha yang semakin menghawatirkan, dan daya beli masyarakat menurun.

    "Kondisi dunia usaha saat ini juga dinilainya sangat tidak memungkin UMP dinaikkan. Beban pengusaha sudah sangat berat, bisa mampu bertahan selama pandemi ini saja disebutnya sudah bersyukur. Jika UMP dinaikkan akan sangat memukul pengusaha dan mendorong pengusaha semakin terpuruk," beber dia.

    Jika terdapat sektor tertentu yang memungkinkan menaikkan UMP, seperti telekomunikasi dan kesehatan, itu dapat dirundingkan secara bipartit. Secara umum, Sarman menilai kondisi pelaku usaha sudah sangat menghawatirkan. Dia berharap serikat pekerja atau buruh dapat memahami kondisi ini.

    Baca: Perda Penanggulangan Covid-19 Perkuat Jaminan Sosial

    Keputusan kenaikan UMP 2021 akan ditetapkan akhir Oktober dan diumumkan pada 1 November 2020. Penetapan UMP masih menggunakan formula berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015, yaitu UMP tahun berjalan ditambah dengan perkalian UMP tahun berjalan dengan pertumbuhan ekonomi dan inflasi nasional.

    Sarman menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 sangat tertekan. Pada kuartal I, ekonomi Indonesia turun 2,97 persen. Kemudian, kuartal II terkontraksi minus 5,32 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi kuartal III tetap terkontraksi minus 2,9-1,1 persen. Pada kuartal IV juga diprediksi minus.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id