Dewan Kesenian: Revitalisasi TIM Genosida Kebudayaan

    Cindy - 13 Februari 2020 10:13 WIB
    Dewan Kesenian: Revitalisasi TIM Genosida Kebudayaan
    Rencana revitalisasi Taman Ismail Marzuki (TIM). Dokumentasi: PT Jakarta Propertindo
    Jakarta: Pekerja seni disebut kehilangan mata pencarian akibat revitalisasi Taman Ismail Marsuki (TIM), Jakarta Pusat. Ruang berekspresi para seniman itu baru dibuka setelah proyek selesai dua tahun lagi.

    "Proses pembangunan kebudayaan pun diasasinasi (dibunuh). Kami menyebutnya genosida kebudayaan," kata mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Noorca Massardi di Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020. 

    Menurut dia, para seniman menolak keras revitalisasi TIM. Mereka melawan selama berbulan-bulan lewat acara seni gerilya. Sebagai pemangku kepentingan utama Pusat Kesenian Jakarta, pekerja seni merasa tak dilibatkan dalam revitalisasi TIM. 

    "Gagasan tentang revitalisasi bisa jadi bagus maksud dan tujuannya, tapi bagaimana bentuk dan apa dasar (visi) yang dimaksud, dua istilah itu tidak kami mengerti," kata Noorca. 

    Noorca menyoroti Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penugasan kepada PT Jakarta Propertindo (Jakpro) untuk Revitalisasi Pusat Kesenian Jakarta TIM.

    Surat ini memberi wewenang kepada Jakpro mengelola TIM menjadi kawasan komersial. TIM menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) sehingga kerja kebudayaan tidak menjadi beban APBD. 

    "Dengan membangun hotel bintang lima tujuh lantai yang belakangan mereka gelincirkan terminologinya secara peyoratif menjadi wisma. Tapi esensinya tetap hotel bintang lima," sambung Noorca. 

    Dewan Kesenian: Revitalisasi TIM Genosida Kebudayaan
    PT Jakpro mulai membongkar Gedung Graha Bhakti Budaya (GBB), TIM, Jakarta, Kamis, 6 Februari 2020. Foto: Antara/Aprillio Akbar

    Noorca menegaskan pemerintah diwajibkan membiayai kegiatan kebudayaan sebagai obligasi konstitusional dan kultural, bukan menjadi beban. Hal ini menjadi investasi pembangunan infrastruktur nonfisik sebagai pelengkap pembangunan material.

    Noorca bersama Forum Seniman Peduli TIM didukung pekerja seni-budaya dan simpatisan akan terus melancarkan gerakan senyap melawan kebijakan ini. Mereka menolak pembangunan hotel di TIM, menolak Jakpro mengelola TIM, dan menuntut Pergub Nomor 63 Tahun 2019 dicabut. 





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id