comscore

Menilik Efektivitas Integrasi Transportasi Ibu Kota

Siti Yona Hukmana - 27 Mei 2021 17:11 WIB
Menilik Efektivitas Integrasi Transportasi Ibu Kota
Ilustrasi halte angkutan umum terintegrasi di DKI/Medcom.id/Siti Yona
Jakarta: Integrasi transportasi publik di DKI semakin terasa mengurangi kemacetan. Ide Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI yang dimulai pada awal 2017 efektif 'mengurai' sesaknya jalanan Jakarta.

Meski tak menyasar volume pengendara mobil pribadi secara langsung, program tersebut membuat betah warga DKI menumpang angkutan umum. Integrasi dimulai dari pembauran penumpang bus TransJakarta dengan angkutan kota (angkot) Koperasi Wahana Kalpika (KWK).
Penumpang TransJakarta dengan kartu pelanggan bisa sesuka hati meneruskan perjalanan dengan angkot KWK tanpa dipungut biaya. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menambah kapasitas integrasi transportasi dengan menggandeng Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) dan Bus MetroMini.

Dalam integrasi ini, penumpang dikenakan biaya Rp5.000 untuk satu kali perjalanan. Di era Anies Baswedan pula, integrasi transportasi di Jakarta meluas, tak hanya melibatkan bus namun juga angkutan berbasis rel.

Moda Raya Terpadu (MRT), Lintas Raya Terpadu (LRT), Kereta Rel Listrik (KRL) Commuterline, dan Kereta Api Indonesia (KAI) Bandara dilibatkan. Integrasi juga menjamah sistem pembayaran angkutan di Jakarta. 

Baca: TransJakarta Sediakan Layanan Gratis Alternatif Stasiun Tanah Abang

Transaksi elektronik dikedepankan. Mulai dari BRIZZI, e-Money Mandiri, JackCard, Gopay, Ovo, dan Link bisa digunakan hampir di semua angkutan umum. 

Pemprov DKI Jakarta mengintegrasikan transportasi agar masyarakat mudah berpindah antarmoda. Dengan begitu, masyarakat nyaman dengan angkutan umum dan beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan massal.

Pengalihan itu terbukti efektif, khususnya akhir-akhir ini. Data indeks kemacetan Jakarta pada 13-19 April 2021, rata-rata berada di angka 26 persen. Sementara itu, indeks kemacetan pekan sebelumnya, yaitu 6-12 April 2021 sebanyak 46 persen. 

Sedangkan, pada 8 Juni 2020, persentase kemacetan 47 persen. Kemacetan paling tinggi terjadi pukul 18.00 WIB 12 Juni 2019, dengan persentase kemacetan mencapai 98 persen. 

Arus lalu lintas selalu padat bahkan tidak bergerak pada jam pulang kerja di sejumlah ruas jalan Ibu Kota kala itu. Jalanan dipenuhi kendaraan baik sepeda motor, angkutan umum, dan mobil pribadi.

Pemprov DKI Jakarta membangun MRT Jakarta bekerja sama dengan perusahaan Jepang. Kereta canggih itu diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Maret 2019.

Membuktikan nyamannya integrasi antarmoda


Medcom.id mencoba merasakan integrasi transportasi di Ibu Kota. Perjalanan dimulai dengan menumpang angkot dari Kebagusan, Jakarta Selatan, menuju stasiun MRT Fatmawati, Jakarta Selatan sekitar pukul 09.30 WIB pada Sabtu, 22 Mei 2021.

Ada dua jenis angkot di Ibu Kota, yakni reguler dan angkot terdaftar di PT Jak Lingko Indonesia yang dikenal dengan sebutan Mikrotrans. Jak Lingko merupakan sistem transportasi yang terintegrasi, baik rute, manajemen, dan pembayaran.
 







Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id