Jalan Ataturk Menuai Polemik, Ini Harapan Wagub DKI

    Kautsar Widya Prabowo - 21 Oktober 2021 21:45 WIB
    Jalan Ataturk Menuai Polemik, Ini Harapan Wagub DKI
    Wagub DKI Ahmad Riza Patria/Dok Humas DKI.



    Jakarta: Rencana penyematan nama pendiri Turki Mustafa Kemal Ataturk sebagai nama jalan di DKI menuai polemik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkirim surat melalui Duta Besar Indonesia untuk Turki tentang penamaan ini.

    Wakil Gubernur DKI Jakara Ahmad Riza Patria (Ariza) berharap ada usulan nama lain, misalnya kota di Turki. "Mudah-mudahan dari pihak Kedutaan Besar menyampaikan dan sudah kami dengar, insyaallah akan diusulkan beberapa nama, apakah Istanbul, apakah ankara, dan lain-lain," ujar Ariza di Balai Kota, Jakarta, Kamis, 21 Oktober 2021. 

     



    Baca: Jadi Nama Jalan di Jakarta, Ini Profil Mustafa Kemal Ataturk

    Ariza berharap Pemerintah Turki dapat menyiapkan alternatif terkait simbol lain yang akan diabadikan sebagai nama jalan di Jakarta. Ia menyebut kondisi serupa pernah dilakukan dengan Pemerintah Maroko.

    "Kami berharap seperti nama yang kami berikan di Casablanca, dulu dengan pemerintah Maroko. Jadi, bukan nama tokoh tapi nama kota," kata dia.

    Sebelumnya, Ariza mengatakan salah satu ruas jalan di Ibu Kota akan dinamakan Presiden pertama Turki Mustafa Kemal Ataturk. Hal ini bagian dari kerja sama Indonesia-Turki.
     
    "Jadi memang ada keinginan dari kedua negara agar ada nama dari kita yang di Turki dan nama tokoh dari Turki di kita," kata Ariza di Jakarta, Minggu, 17 Oktober 2021.
     
    Ariza belum bisa memastikan ruas jalan yang akan menggunakan nama Ataturk. Ariza berjanji mengumumkan lokasi Jalan Ataturk dalam waktu dekat.

    Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta menolak nama Mustafa Kemal Ataturk dijadikan nama jalan di Jakarta. Anggota sekaligus Penasihat Fraksi PKS, Nasrullah, mengatakan pendiri negara Turki itu semasa memerintah sebagai presiden kerap membuat kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

    Salah satu kebijakan Mustafa yang terkenal yaitu mengganti azan dengan bahasa Turki dan mengubah Masjid Hagia Sofia menjadi museum. "Nama tersebut sangat resisten terutama kepada umat Islam. Kebijakan Ataturk yang tidak mendukung dan bahkan melarang kegiatan Islam di Turki sangat mencoreng hati nurani umat Islam dan negeri lain," kata Nasrullah, Selasa, 19 Oktober 2021.

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id