DKI dan Banten Terancam Kekeringan

    Nur Azizah - 22 Agustus 2019 13:03 WIB
    DKI dan Banten Terancam Kekeringan
    Kekeringan. Foto: MI/Amiruddin Abdullah.
    Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan sebagian besar wilayah Banten dan DKI Jakarta telah masuk musim kemarau. Kedua provinsi diminta bersiap menghadapi bencana kekeringan.

    "Data hari tanpa hujan (HTH) hingga 20 Agustus 2019 menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Banten dan DKI Jakarta mengalami deret hari kering lebih dari 20 hari hingga lebih dari 60 hari," kata Kepala Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan Sukasno dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis, 22 Agustus 2019.

    Menurut dia, prakiraan peluang curah hujan pada dasarian III Agustus dan dasarian I September 2019 menunjukkan beberapa daerah akan mengalami curah hujan sangat rendah. Curah hujan kurang dari 20mm/dasarian dengan peluang hingga lebih dari 90 persen. 

    "Kedua kondisi di atas memenuhi syarat untuk dikeluarkan peringatan dini," ujar dia.

    Sukasno menjelaskan kekeringan bakal berdampak pada sektor pertanian yang menggunakan sistem tadah hujan di Banten dan DKI. Ketersediaan air tanah juga terancam. Kelangkaan air bersih di wilayah Banten dan DKI Jakarta perlu diantisipasi. 

    "Berdampak pada meningkatnya polusi udara di wilayah Banten dan DKI Jakarta," pungkas dia.

    Sebelumnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Andono Warih yakin Jakarta tak akan kekurangan air meski diterpa kekeringan. Dia mengeklaim kekeringan yang terjadi di Jakarta berbeda dengan daerah lainnya.

    "Kalaupun kering, pasokan air aman," kata Andono beberapa waktu lalu.

    Andono menjamin kebutuhan air bersih untuk warga Jakarta tak akan terganggu. Ia menegaskan kekeringan tak akan membuat masyarakat kesulitan air minum dan kebutuhan dasar.

    "Kalau dari segi itu enggak ada masalah. Sebab, air dari PAM Jaya ada, kemudian air isi ulangnya juga masuk. Air minum dalam kemasan juga masuk dengan jumlah yang memadai," ungkap dia.

    Sementara itu, Manajer Humas PAM Jaya Linda Nurhandayani memastikan pasokan air bersih aman hingga musim kemarau berakhir. Dia berani menyatakan itu lantaran ketinggian air di waduk Juanda Jatiluhur, Jawa Barat, masih stabil.

    Baca: Kekeringan di Bogor Diprediksi Hingga Oktober

    Waduk Jatiluhur menjadi sumber air baku PAM Jaya yang terbesar hingga 81% persen. Ambang batas kedalaman minimum waduk Juanda Jatiluhur adalah 87,5 meter, sedangkan saat ini ambang kedalaman air masih sekitar 102 meter.

    "Selain itu air curah dari Tangerang pun masih relatif sesuai target yang diharapkan," kata Linda kepada Medcom.id.

    Sumber-sumber air baku dari Jakarta masih sesuai yang dibutuhkan. Sumber air baku itu berasal dari Kali Krukut dan Cengkareng Drain, Jakarta Barat.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id