Segera Koordinasikan Integrasi Antarmoda

    Putri Anisa Yuliani - 13 Desember 2019 09:11 WIB
    Segera Koordinasikan Integrasi Antarmoda
    Warga menaiki LRT dari Stasiun Boulevard Utara menuju Velodrome, Jakarta. Foto: MI/Ramdani
    Jakarta: Dinas Perhubungan DKI didesak segera menetukan integrasi antarmoda: Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dan Lintas Raya Terpadu (LRT). Pasalnya, trase LRT koridor 2 Pulo Gadung-Kebayoran Lama dengan rute MRT timur-barat Cikarang-Balaraja berhimpitan.

    "Ya harus berkoordinasi itu," kata anggota DPRD DKI Pandapotan Sinaga di Jakarta, Kamis, 12 Desember 2019.

    Pandapotan menegaskan pihaknya mendukung penuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk membangun moda transportasi yang terintegrasi. Hal ini penting untuk memastikan penyediaan transportasi memadai untuk masyarakat Jakarta. 

    "Ini harus segera direalisasikan baik MRT maupun LRT," jelas dia.

    Direktur Prasarana Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Heru Wisnu Wibowo menyebut berhimpitannya trase MRT timur-barat dengan LRT koridor 2 Pulo Gadung-Kebayoran Lama harus diselesaikan. Salah satu trase harus dipindahkan.

    Heru menyebut sebaiknya trase LRT dipindahkan karena belum ada studi kelayakannya. Hal itu menimbang jika MRT yang pindah trase akan membutuhkan waktu yang lama karena harus membuat kajian terlebih dulu.

    Di sisi lain, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Syafrin Liputo teguh LRT tidak bisa dipindahkan. Sebaliknya, MRT yang harus memindahkan trasenya ke Harmoni atau Sawah Besar guna menampung permintaan penumpang yang tinggi.

    Anggota Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD DKI Eneng Maliana Sari menyoroti usulan Dishub. Milli menjelaskan seandainya usulan perubahan rute LRT tersebut dipenuhi, MRT harus merombak desain Stasiun Sarinah dan Stasiun Sawah Besar pada koridor utara-selatan. Studi kelayakan dan basic engineering design MRT koridor timur-barat harus direvisi.

    "Terkesan Dishub memaksakan untuk mengubah rute LRT. Padahal, jika mengikuti rancangan awal, pengoperasian LRT akan lebih diuntungkan karena melewati Manggarai dan Dukuh Atas yang menjadi pertemuan berbagai moda transportasi massal di Jakarta," ucap Milli, sapaan akrabnya.

    Di sisi lain, pelaksanaan pembangunan MRT koridor utara-selatan fase 2 telah dicanangkan Presiden Jokowi pada Minggu, 24 Maret 2019. Pada Jokowi memerintahkan Pemprov DKI segera memulai pembangunan MRT fase 3 koridor timur-barat pada 2019 ini.

    "Jangan sampai hanya karena kemauan Dishub semata, lalu MRT dikorbankan dan waktu penyelesaiannya semakin lama. Kami minta agar Dishub tidak menghambat proyek MRT yang merupakan proyek strategis nasional," ucap Milli.

    LRT koridor 2 ditargetkan mulai pembangunannya pada tahun depan dan diproyeksi selesai pada 2022. Biaya pembangunan LRT ini ditaksir mencapai Rp15 triliun.

    Tarif parkir naik

    PT MRT Jakarta mendorong Pemprov DKI menyegerakan penetapan kenaikan tarif parkir di Ibu Kota sebagai salah satu instrumen pengendalian kendaraan pribadi. Hal itu guna mendorong peningkatan jumlah penumpang MRT yang rata-rata mencapai 90 ribu per hari menjadi 150 ribu per hari seperti yang ditargetkan Dishub DKI. 

    "Ya harus ada instrumen lain guna mendukung pengendalian kendaraan pribadi. Kami minta untuk kenaikan tarif parkir disegerakan," ungkap Direktur Operasional PT MRT Jakarta Muhammad Effendy.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id