comscore

Meski Berbahaya, Petasan Lekat dengan Budaya Betawi

MetroTV - 22 Juni 2022 10:36 WIB
Meski Berbahaya, Petasan Lekat dengan Budaya Betawi
Tangkapan layar Metro TV
Jakarta: Ada yang khas di setiap hajatan atau acara yang digelar masyarakat Betawi, DKI Jakarta, yaitu petasan. Petasan digunakan dalam berbagai acara, seperti pesta perkawinan, sunatan, naik haji, dan juga lainnya.

Bunyi petasan menjadi pertanda atau pemberi informasi bahwa acara tengah dilangsungkan. Seperti saat pulang dari melaksanakan ibadah haji dan umrah. Bunyi petasan juga diiringi oleh lantunan salawat sebagai tanda rombongan keluarga telah pulang ke rumah dari Tanah Suci.
Ledakan petasan yang berbahaya ternyata tidak membuat Makmur, seorang seniman Betawi, takut. Ia akrab dengan petasan hingga dirinya dijuluki sebagai 'manusia petasan'. Makmur sering diundang oleh warga yang sedang menggelar acara dengan menggunakan petasan.

"Harus tahu penguasaan tekniknya. Saya juga pernah beberapa kali kecelakaan sampai tangan bengkok,” ujar Makmur, dalam program Selamat Pagi Indonesia di Metro TV, Rabu, 22 Juni 2022.

Meski identik dengan bahaya, namun petasan hampir selalu ada dalam acara yang digelar oleh masyarakat Betawi. Ada yang menyebut bahwa tradisi meledakkan petasan sudah ada sejak tahun 40-an.

Mengutip laman senibudayabetawi.com, banyaknya petasan yang dinyalakan dalam satu hajatan bisa menunjukkan status sosial. "Itu artinya, semakin banyak petasan, ia akan semakin banyak menerima pujian," kata Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Irwan Sjafi’e.

Tradisi riwayat petasan tak lepas dari pengaruh etnis Tionghoa yang tinggal di Batavia. Konon, petasan di daratan Cina biasa digunakan sebagai pengusir setan, jin, hingga iblis. 

Ridwan Saidi dalam Profil Orang Betawi, Asal Muasal, Kebudayaan dan Adat Istiadat (2004), menyebut bahwa daratan Cina pernah diserang wabah penyakit. Nahas, wabah itu menjalar cepat hingga banyak korban berjatuhan.

Baca: Petasan Meledak Hebat di Tangan Warga, Polisi Lakukan Penyelidikan

Menurut keyakinan etnis Tionghoa, wabah penyakit itu disebabkan oleh setan, iblis serta jin yang murka pada ulah manusia. Mereka berinisiatif mengusirnya dengan memukul benda-benda bersuara nyaring, seperti tambur hingga seng.

Bunyi-bunyian itulah yang juga menginspirasi mereka untuk menciptakan petasan. Petasan bisa ditimpuk serta dilempar di berbagai tempat untuk menakut-nakuti setan. Siapa sangka, tradisi ini masih terus dilanjutkan imigran Cina ke Tanah Batavia. (Alifiah Nurul Rahmania)

(UWA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id