Mengubah Bangunan Bersejarah Ibu Kota Bisa Dikompromikan

    Nur Azizah - 06 Juli 2017 20:08 WIB
    Mengubah Bangunan Bersejarah Ibu Kota Bisa Dikompromikan
    Rumah cantik yang merupakan cagar budaya kini dalam kondisi dibongkar. Foto: MI/Ramdani
    medcom.id, Jakarta: Bangunan bersejarah di Ibu Kota banyak yang berubah. Gedung-gedung penuh filosofis dirombak berganti rupa dan fungsi.
     
    Ada yang disulap menjadi kafe, galeri kesenian, hingga salon kecantikan. Arsitekturnya pun diganti dengan ragam gaya yang lebih modern.
     
    Arkelog senior di Tim Ahli Cagar Budaya Pemprov DKI Jakarta, Candrian Attahiyat, mengatakan alih fungsi bangunan cagar budaya diperbolehkan. Asal tidak menghilangkan keaslian dan keindahan bangunan.
     
    "Kalau bangunan dialihkan menjadi tempat tinggal, restoran, museum tidak apa-apa. Selama tidak mengubah bentuk," kata Candrian kepada Metrotvnews.com, Kamis 6 Juli 2017.
     
    Dalam Pergub Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Cagar Budaya, bangunan dari segi arsitektur dan sejarah dibagi menjadi tiga golongan. A, B, dan C boleh direvitalisasi asal tidak mengubah tampilan depan.
     
    Sayangnya, aturan tersebut tidak diterapkan dalam pergantian fungsi rumah cantik di Jalan Teuku Cikditiro, Menteng Jakarta Pusat. Rumah yang masuk dalam kawasan cagar budaya ini dibongkar.
     
    "Pergantian fungsi diperbolehkan asal tidak dirombak habis. Di Jakarta banyak bangunan bersejarah yang sudah beralih fungsi," ujarnya.
     
    Di antaranya, di kawasan Kota Tua. Pada zaman Belanda, kawasan yang berada di Jakarta Barat itu berfungsi sebagai pusat pemerintahan Ibu Kota.
     
    Saat ini, Kota Tua menjadi tempat wisata. Selain Kota Tua, rumah Kapitan Wanserc juga dialihfungsikan menjadi restoran.
     
    "Tapi ada juga bangunan yang tidak boleh diubah fungsinya sama sekali. Contohnya gedung Sumpah Pemuda dan Istana Merdeka," kata Candrian.
     
    Arkeolog Universitas Indonesia ini menyebut 10 persen dari 216 bangunan cagar budaya di Jakarta sudah berganti fungsi. Mereka diperkenankan mengganti fungsi bangunannya agar bisa membiayai dan mengurus bangunan serta kawasannya sendiri.
     
    Melalui Kompromi
     
    Pergantian fungsi dari bangunan sejarah menjadi kafe atau hotel harus melewati sejumlah prosedur yang cukup rumit. Pemohon harus mendapat persetujuan dari tim pemugaran Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Meski terbilang rumit, namun masih ada proses kompromi
     
    "Mereka bisa kompromi. Misalnya mau dijadikan restoran, mereka bisa bongkar. Tapi tampilan depan tetap harus utuh," ujar Candrian.
     
    Bila proses komunikasi berjalan mulus, tim pemugaran akan menyetujui perombakan bangunan bagian dalam.  "Kalau tidak setuju, mungkin ada jalan lain. Solusi lain," pungkasnya.
     
    Candrian menegaskan, perombakan bangunan atau kawasan cagar budaya tidak boleh berlebihan. Bila bangunan asli hilang, pelaku bisa dijerat Undang-undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010 dengan denda Rp500 ribu hingga Rp1 miliar.



    (FZN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id