Tenaga Pemulasaraan Mengaku Resah Berhadapan dengan Masyarakat

    Antara - 22 Juli 2021 01:42 WIB
    Tenaga Pemulasaraan Mengaku Resah Berhadapan dengan Masyarakat
    Ilustrasi pemakaman jenazah pasien covid-19. Antara



    Jakarta: Tenaga pemulasaraan jenazah covid-19, Achmad Mustofa, resah saat berhadapan dengan masyarakat. Dia memiliki pengalaman tak mengenakkan saat akan memakamkan jenazah pengidap covid-19.

    "Kemarin di RW 05 ya, kami disuruh tanggung-jawab dunia akhirat," kata Mustofa saat ditemui wartawan di Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu, 21 Juli 2021.

     



    Mustofa mengatakan keluarga jenazah seperti tidak mau tahu dengan prosedur penanganan jenazah covid-19. Padahal, anggota keluarganya meninggal saat menjalani isolasi mandiri.

    "Kami disuruh bertanggung jawab dunia akhirat kalau proses jenazahnya itu tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Islam," kata Mustofa.

    Keluarga jenazah pengidap covid-19 ingin petugas melakukan proses pemandian jenazah. Sedangkan, standar operasional prosedur penanganan jenazah yang diterbitkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) cukup melakukan tayamum.

    Menurut pihak keluarga, jenazah sedang masa nifas karena pernah keguguran. Sehingga perlu dimandikan seperti diatur dalam syariat Islam.

    Baca: Depok Tambah Lahan Pemakaman Seluas 8 Hekatre di Sawangan

    Mustofa pun menjelaskan kepada pihak keluarga bahwa petugas pemulasaraan jenazah hanya bisa menjalani tata cara yang diatur dalam SOP, yakni melakukan tayamum. "Sebelumnya kami sudah mempersilakan kepada pihak keluarga apabila memang mau memandikan jenazah, akan kami pakaikan alat pelindung diri (APD) tapi mereka tidak mau," kata Mustofa.

    Mustofa mengatakan jenazah tidak bisa dimandikan bukan karena tidak ada anggota tim pemulasaraan jenazah perempuan. Dia menjelaskan penolakan memandikan jenazah covid-19 lantaran prosesnya membutuhkan banyak air, dan tidak sesuai prosedur.

    "Kami khawatir mencemari saluran air warga. Kami kan tidak tahu apa dampak (virus) kepada airnya. Kami tidak berani mengambil risiko itu," kata Mustofa.

    Untungnya, muncul seorang ustaz di Dewan Masjid Indonesia (DMI) yang bisa mencerahkan dan menenangkan pihak keluarga. Sehingga, pihak keluarga bisa menerima jenazah hanya dilakukan tayamum.

    "Dengan bantuan dari ustaz dari DMI itu akhirnya kami mengerjakan (pemulasaraan jenazah) sesuai prosedur penanganan jenazah covid-19," kata Mustofa.
    ???????
    Lurah Sunter Agung Danang Wijanarka mengatakan petugas pemulasaraan jenazah covid-19 sudah menerima pelatihan dua kali dari Kepala Satuan Pelaksana Suku Dinas Kesehatan Tanjung Priok dan Puskesmas Tanjung Priok. "Pelatihan pertama diadakan pada 29 Juni, sedangkan pelatihan kedua pada 5 Juli," ujar Danang.

    Adapun jumlah petugas pemulasaraan jenazah covid-19 di Kelurahan Sunter Agung terdiri dari 29 PPSU dan 10 warga dari Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Karang Taruna, serta Kelompok Sadar Keamanan dan Ketertiban Masyarakat Kelurahan Tanjung Priok.

    "Jadi total kami memiliki 39 tenaga pemulasaraan jenazah covid-19 yang dibentuk Kelurahan Sunter Agung secara mandiri. Mereka sudah terlatih karena mengikuti pelatihan tata cara pemulasaraan jenazah covid-19," kata Danang.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id