• DONASI PALU/DONGGALA :
    Tanggal 23 NOV 2018 - RP 51.179.914.135

  • Salurkan Donasi Anda: (BCA - 309.500.6005) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (Mandiri - 117.0000.99.77.00) A/n Yayasan Media Group

  • Salurkan Donasi Anda: (BRI - 0398.01.0000.53.303) A/n Yayasan Media Group

Inspektorat Periksa Guru Terduga Penyebar Doktrin Anti-Jokowi

Nur Azizah - 12 Oktober 2018 15:40 wib
Ilustrasi Gedung Balai Kota DKI. (Foto jakarta.go.id)
Ilustrasi Gedung Balai Kota DKI. (Foto jakarta.go.id)

Jakarta: Inspektorat DKI Jakarta memeriksa guru SMA Negeri 87 Nelty Khairiyah. Dia diduga melakukan doktrin pada siswanya untuk tak memilih Presiden Joko Widodo di Pilpres 2019.
 
Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Ari Budiman mengatakan, proses pemeriksaan belum selesai.
 
"Guru itu sekarang sedang dalam posisi kurang fit, pemeriksaan kan sampai malam tadi. Dia ditanya soal kronologis dan lainnya," kata Ari saat dihubungi, Jakarta Pusat, Jumat, 12 Oktober 2018.
 
Pemeriksaan dilanjutkan Senin, 15 Oktober 2018. Hingga saat ini belum ada hasil pemeriksaan. "Jadi, masih dugaan mendoktrin. Belum terbukti," imbuh dia.
 
Selain Nelty, siswa SMA 87 Jakarta juga turut dimintai keterangan. Namun, pemeriksaan itu dilakukan oleh pihak sekolah.
 
"Itu dilakukan oleh sekolah. Jadi pemeriksaan berjenjang. Kalau untuk yang PNS ke inspektorat," ungkapnya.
 
Dugaan doktrin di sekolah beredar setelah seorang ibu menceritakan kejadian itu ke akun Facebook. Anaknya didoktrin untuk membenci Presiden Joko Widodo.

Baca: PDIP DKI Minta Kasus Guru Doktrin Siswa Anti-Jokowi Diusut

Doktrin ini bermula ketika Nelty mengumpulkan siswa dan memperlihatkan video gempa dan tsunami yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah. Di tengah penayangan video itu, dia bertanya penyebab musibah tersebut.
 
"Kemudian ibu guru itu bertanya kepada muridnya. Ini salah siapa? Salah pemerintah. Salah Jokowi," kata orang tua murid itu meniru ucapan guru.
 
Nelty pun meminta siswanya tidak memilih Jokowi di Pilpres mendatang. Cerita ini kemudian viral di media sosial.
 
Kepala sekolah SMA 87 Jakarta Patra Patria mengatakan NK sudah diperiksa dan meminta maaf. Permintaan maaf ini turut disaksikan wakil kepala sekolah dan kepala tata usaha.
 
"Saya sudah panggil guru dan melakukan pembinaan. Itu disaksikan oleh wakil kepala sekolah dan ketua TU. Dia sudah minta maaf dan buat pernyataan tidak akan mengulanginya lagi," kata Patra kepada Medcom.id, Jakarta, Rabu, 10 Oktober 2018.


(FZN)


BACA JUGA
BERITA LAINNYA

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id

Bagaimana Kami Menguji

Kami menguji produk dengan subjektif karena mengutamakan pengalaman penggunaan. Meski demikian, kesimpulan yang kami ambil juga didasari sejumlah data dari perangkat lunak tertentu yang kami gunakan untuk melihat kinerja produk.

Khusus untuk menguji perangkat keras dan perangkat lunak komputer, kami menggunakan konfigurasi yang identik untuk tiap produk. Berikut komponen testbed resmi Metrotvnews.com.

Hardware

  • Prosesor: Intel Core i7-7700K, AMD Ryzen 7 1800X
  • Motherboard: ASUS Z270F STRIX Gaming, MSI X370 Gaming Pro Carbon
  • VGA: MSI GTX 1080 Gaming X, ASUS RX 480 STRIX 8GB
  • RAM: Corsair Vengeance LPX 3200MHz (2x8GB)
  • Penyimpanan: Corsair Neutron XTi 240GB
  • PSU: Corsair RM850X
  • Case: MSI DIY Case
  • Monitor: ASUS PB287Q 4K, AOC C3583FQ
  • Keyboard: Logitech G900 Chaos Spectrum, Logitech G402 Hyperion Fury
  • Mouse: Logitech G440, Logitech G240
  • Headset: Logitech G430, Logitech G633

Software

Performa dan Baterai: PCMark 8, 3DMark, Crystal Disk Mark
Gaming: The Witcher 3: Wild Hunt, Ashes of Singularity, Tom CLancy's Ghost Recon Wildlands

Kami juga menggunakan metode pengujian yang sama untuk semua gadget. Meski di pasar tersedia beragam perangkat lunak benchmarking, kami hanya memilih tiga berdasarkan reputasi mereka yang diakui secara internasional, 3DMark dan PCMark 2.0.