Penetapan New Normal di Jakarta Didesak Berbasis Data

    Cindy - 02 Juni 2020 08:04 WIB
    Penetapan New Normal di Jakarta Didesak Berbasis Data
    Ilustrasi Jakarta. Medcom.id/Nur Azizah
    Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta menerapkan fase new normal (kenormalan baru) secara perlahan sesuai evaluasi data covid-19. Rencana pelonggaran masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) itu seharusnya bukan kejar tayang.

    "Sebaiknya antara fase dievaluasi setidaknya menggunakan data setiap dua minggu. Beberapa negara yang sudah melonggarkan melakukan fase per dua minggu dan ada yang per empat minggu," kata Anggota Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak lewat keterangan tertulis, Selasa, 2 Juni 2020.

    Salah satu data yang perlu diperhatikan yakni masyarakat dengan faktor risiko tertinggi terjangkit covid-19. Di Indonesia, masyarakat yang rentan ialah pria kelompok usia 50 tahun ke atas dan memiliki penyakit penyerta seperti darah tinggi.

    Namun, dia mengakui data penyebaran virus korona tidak mungkin akurat. Hal ini bahkan terjadi di Amerika Serikat yang menguburkan orang meninggal tanpa pemeriksaan. Tak semua warga Negeri Paman Sam yang terjangkit diperiksa atau masuk ICU.

    "Mereka memilih mana yang punya harapan hidup lalu dirawat. Karena tidak sanggup menguburkan, lalu disimpan di kontainer yang belakangan cairannya menetes di komplek perumahan dan menimbulkan kehebohan," ujar Gilbert.

    Baca: Wagub DKI: Jangan Sia-Siakan Pengorbanan Dua Bulan

    Italia yang diklaim memiliki sistem kesehatan terbaik di Eropa atau negara lain di Benua Biru juga tak tidak memiliki data akurat. Tiongkok sebagai negara pertama terjangkit yang jadi acuan juga sempat merevisi data covid-19.

    "Karena itu jangan memprioritaskan pemeriksaan diagnostik, tetapi prioritaskan pencegahan penularan. Seberapa besarpun jumlah yang diperiksa, selalu ada kemungkinan dengan asumsi sedikitnya 10 persen yang mengidap tapi tidak diperiksa," ucapnya.


    Sosialiasi dan diksi mesti dibenahi

    Gilbert mendorong new normal sudah sepatutnya disosialisasikan sejak dini. Sebab, tak mudah menyosialisasikan informasi tersebut kepada seluruh warga, khususnya masyarakat kelompok bawah.

    Sosialiasi hanya bisa efektif jika melibatkan RT dan RW. Lebih cepat melakukan sosialisasi, kata dia, lebih cepat kenormalam baru bisa berjalan.

    Dia juga menyarankan istilah new normal diganti dengan persiapan pelonggaran PSBB. Hal ini untuk mencegah masyarakat tidak euforia.

    "Gelombang kedua wabah flu Spanyol terjadi (pada 1918) karena masyarakat euforia," kata Gilbert.



    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id