Jakarta Pusat Favorit Gelandangan

    Candra Yuri Nuralam - 23 Agustus 2019 11:34 WIB
    Jakarta Pusat Favorit Gelandangan
    Seorang tuna wisma tertidur di atas gerobak miliknya di Kawasan Jakarta Utara. Foto: MI/Galih Pradipta.
    Jakarta: Ahli statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat Tanno Kamila Helaw mengatakan Jakarta Pusat paling banyak disinggahi gelandangan. Pada 2018, sebanyak 111 gelandangan tercatat berkeliaran di pusat Ibu Kota itu.

    "Selanjutnya ada di Jakarta Selatan dengan total 50 orang gelandangan," kata Tanno kepada Medcom.id, Jumat, 23 Augustus 2019.

    Jakarta Barat menjadi daerah terbanyak ketiga di DKI yang didatangi para tunawisma dengan total 42 orang, sedangkan Jakarta Utara 14 orang. Jakarta Timur tercatat paling sedikit dikunjungi gelandangan dengan total 12 orang.

    Sementara itu, pengemis terbanyak ada di Jakarta Selatan dengan total 76 orang. Di Jakarta Timur tercatat ada 43 pengemis. "Pengemis di Jakarta Pusat hanya 31 orang yang tercatat, selanjutnya Jakarta Barat 19 orang, dan Jakarta Utara 4 orang."

    Untuk anak jalanan, daerah yang paling banyak didatangi ialah Jakarta Barat dengan total 263 orang. Usai Jakarta barat, anak jalanan terbanyak ada di Jakarta Timur dengan total 260 orang.

    "Sedangkan untuk Jakarta Pusat ada 102 orang, Jakarta Utara 87 orang, dan Jakarta Selatan 75 orang," tutur Tanno.

    Tanno mengatakan data ini bersumber dengan data penyandang masalah kesejahteraan sosial. Data ini dibuat Dinas Sosial (Dinsos) DKI Jakarta pada Mei 2018.

    Sebelumnya, Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan maraknya gelandangan dan pengemis (gepeng) bukan hanya disebabkan faktor ekonomi. Dia mengendus ada kejahatan kolektif terorganisasi dalam masalah ini. 

    "Semacam mafia atau kartel, bahkan ada pembagian wilayah," kata Mensos di Jakarta, Kamis, 22 Agustus 2019. 

    Menurut dia, dalam kasus ini, pihaknya sering mendapati adanya obat-obat terlarang yang sengaja diberikan kepada calon-calon gepeng. Hal ini menyebabkan mereka ketergantungan dan mudah dieksploitasi.  

    Baca: Puluhan Gepeng Ditangkap dalam Sepekan Ramadan

    "Ini suatu kejahatan di mana mereka menjadikan manusia sebagai komoditas. Melibatkan sewa menyewa anak, menyewa orang dan modus lainnya," kata Mensos Agus.    

    Selain dorongan ekonomi dan adanya faktor kejahatan, faktor mentalitas juga menjadi salah satu pemicu munculnya gepeng. Mereka mengemis karena ingin jalan pintas yang mudah untuk mendapatkan uang.

    Kemensos memprediksi populasi gepeng di seluruh Indonesia mencapai 77.500 orang yang tersebar di kota-kota besar. Jumlah tersebut fluktuatif karena sulit dilakukan pendataan bahkan cenderung naik pada hari-hari besar seperti hari raya.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id