Masyarakat Indonesia Masih Ogah Memilah Sampah

    Medcom - 27 November 2019 12:31 WIB
    Masyarakat Indonesia Masih Ogah Memilah Sampah
    Suasana diskusi soal kelola sampah mulai dari rumah di acara social good summit 2019, Jakarta. Dok. Istimewa
    Jakarta: Sebagian besar masyarakat masih enggan memilah sampah. Rumah tangga yang memilah sampah di Indonesia baru mencapai 49,2 persen, atau belum sampai setengah warga Indonesia.

    Berdasarkan hasil survei Katadata Insight Center (KIC), 79 persen rumah tangga yang tak memilih sampah beralasan tidak ingin repot. 

    "Mereka berpikir ribet, milih jenis apa, dan mereka juga berpikir di tempat pembuangan,  sampah akan tercampur," kata peneliti KIC Franklin Michael Hutasoid dalam paparan kelola sampah mulai dari rumah di acara Social Good Summit 2019, Jakarta, Rabu, 27 November 2019.

    Sekitar 17 persen responden berpikir memilah sampah ujung-ujungnya akan tercampur. Sementara, tiga persen menyebut pemilahan tidak bermanfaat dan satu persen beralasan lain-lain. 

    Dari 49,2 persen yang memilah sampah, jelas Franklin, sebanyak 78 persen memilah dalam dua ketegori, 18 persen dalam tiga kategori dan lima persen persen menyatakan telaten memilah sampah dalam empat kategori. Pemilahan dengan kategori sampah basah dan kering dilakukan 59 persen responden.

    "Pemisahannya sampah kering dan basah tidak cukup, karena idealnya ada pemisahan organik, anorganik, dan limbah berbahaya," kata Franklin.  

    Responden yang memiliah sampah dengan kategori organik dan anorganik hanya 19 persen. Sedangkan, pemilahan sampah yang organik, plastik, dan lainnya baru 13 persen, daur ulang lima persen, plastik kaleng tiga persen, serta plastik kertas satu persen. 

    Sisa makanan, plastik, dan kertas, mendominasi sampah rumah tangga responden. Sebanyak 78 persen responden setuju dengan pemilahan sampah plastik, dan 62 persen responden sepakat sisa makanan atau kompos, kulit buah, dan potongan sayur harus dipilah.

    Responden yang memisahkan sampah plastik sebanyak 46 persen, dan 45 persen responden sudah memilah sisa makanan/kompos, termasuk kulit buah, dan potongan sayur.

    Rumah tangga penghasil sampah terbesar

    Rumah tangga salah satu produsen sampah terbesar. Dalam satu jam, Indonesia memproduksi 7.300 ton sampah atau setara 175 ribu ton per hari. 

    "Dalam satu hari, jumlah itu bisa menimbun Gelora Bung Karno," kata Franklin. 

    Sampah tersebut akan mencapai 640 juta ton atau 64 juta ton per tahun jika dikumpulkan 10 tahun. Dari total sampah itu, 60 persen berasal dari sisa makanan seperti masakan, sayuran, buah, dan lain-lain. 

    Sumbangan sampah plastik di Indonesia mencapai 14 persen, sampah kertas sembilan persen, dan 17 persen sampah seperti karet, serta logam.

    Franklin menilai masyarakat bisa didorong agar menjadi bagian pengelolaan sampah sejak dari rumah. Namun, itu harus dilakukan dengan penyediaan insfrastruktur daur ulang dan sistem sirkular sampah. Penegakan hukum terkait pengelolaan sampah juga harus berjalan.

    Belajar dari Swedia, terang dia, kewajiban perlu diterapkan di setiap lini dan disertai penegakan hukum atas kewajiban. Sebagai pendorong partisipasi semua pihak, perlu ada insentif bagi yang mengelola sampah.

    "Kita jangan skeptis, sebab pemilahan sampah dari rumah dengan sederhana akan memberi kontribusi pada ekonomi sirkular," kata Franklin. 

    Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia, Edi Rivai, mengatakan pemakaian plastik per kapita masih rendah, atau diperkirakan 21-22 kilogram per tahun. Total sampah tersebut sekitar 5,9 juta ton per tahun. 

    "Korea itu pemakaian plastik sudah 141 kilogram per kapita per tahun, demikian juga dengan Jepang konsumsi per kapita kira-kira 80 kilogram per tahun," kata Rivai.

    Meski volume relatif lebih kecil, sampah palstik tetap menjadi permasalahan besar. Karena pengelolaannya belum optimal. "Jadi ke depan tinggal bagaimana kita mengelola dari output (sampah) plastik itu sendiri."

    Caranya antara lain dengan melibatkan rumah tangga memilah sampah dari rumah. Terlebih menurut Edi, pada dasarnya plastik diproduksi bukan untuk sekali pakai.

    Survei ini dilakukan pada 28 September 2019-1 Oktober 2019 terhadap 354 responden di lima kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Metodelogi yang digunakan multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen.



    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id