Wagub DKI Jelaskan Data Banjir yang Menjadi Kontroversi

    Cindy - 23 Februari 2021 07:28 WIB
    Wagub DKI Jelaskan Data Banjir yang Menjadi Kontroversi
    Ilustrasi banjir. Medcom.id/Zaenal Arifin
    Jakarta: Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria membantah Pemprov DKI Jakarta sengaja tidak mengunggah keseluruhan data banjir tahunan di Ibu Kota. Riza mengatakan data yang ditampilkan di media sosial Pemprov DKI hanya saat cuaca ekstrem.

    "Data yang ditampilkan data yang banjir besar (lima tahunan) yang hujan ekstrem dan semuanya tersimpan dengan jelas," kata Riza di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Senin, 22 Februari 2021.

    Riza menyebut tidak ada fakta dan data yang disembunyikan. Data sesuai yang dihimpun Pemprov DKI melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA).

    "Kalau mau data setiap tahun, ada datanya, titik-titiknya, ada semua lengkap, silakan cek di Kominfo dan SDA. Ini data yang ditampilkan data banjir besar yang hujan-hujan ekstrem saja," ungkap dia.

    Menurut dia, banjir yang terjadi pada 2016-2017 bukan akibat hujan ekstrem. Sehingga, datanya tidak diunggah ke media sosial. Pemprov DKI hanya mengunggah data banjir besar yang terjadi pada 2002, 2007, 2013, 2015, 2020, hingga 2021.

    "Kalau dilihat angka-angka di dalamnya, cukup signifikan penurunannya," ucap dia.

    Dalam data tersebut, luas area yang tergenang sebesar 168 km persegi pada 2002. Luas area genangan meningkat menjadi 455 km persegi pada 2007. Angka itu kembali menurun menjadi 240 km persegi pada 2013, kemudian 281 km persegi pada 2015, 56 km persegi pada 2020, dan 4 km persegi pada 2021.

    "Untuk korban meninggal dari 2002 ada 33 korban meninggal, 2007 ada 48 korban meninggal, 2013 ada 40 korban meninggal, 2015 ada lima orang meninggal, 2020 ada 19 orang korban meninggal, 2021 ada lima orang meninggal," ucapnya.

    Baca: Berpotensi Digugat Akibat Banjir, Wagub DKI: Hak Masyarakat

    Riza menjelaskan banjir surut berturut-turut memerlukan waktu enam hari pada 2002, 10 hari pada 2007, tujuh hari pada 2013. Kemudian tujuh hari pada 2015, empat hari pada 2020, dan satu hari pada 2021.

    "Ini sudah jelas semua, tidak ada yang disembunyikan," kata politikus Partai Gerindra itu.

    (AZF)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id