Setelah Lampu Hijau Menyala di Sirkuit Monas

    Yogi Bayu Aji - 12 Februari 2020 19:54 WIB
    Setelah Lampu Hijau Menyala di Sirkuit Monas
    Suasana acara konferensi pers Jakarta E-Prix 2020 di Monas, Jakarta Pusat, Jumat, 20 September 2019. Foto: MI/Saskia Anindya Putri
    Jakarta: Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka akhirnya mengizinkan wilayah Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, menjadi sirkuit Formula E. Sejatinya, Komisi Pengarah sempat menolak wacana itu karena Monas termasuk cagar budaya.

    "Tadi saya baca surat keputusan dari Ketua Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka, Pratikno, bahwa Monas boleh digunakan," kata Sekretaris Komisi B DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga di DPRD DKI, Jakarta Pusat, Senin, 10 Februari 2020.

    Monas bakal berubah wujud, Sabtu, 6 Juni 2020, saat perhelatan Formula E digelar. Bila biasanya lokasi itu menjadi tempat wisata, Monas bakal menjadi lokasi balap mobil listrik bergengsi sekelas Formula Satu.

    Lintasan sepanjang 2,6 kilometer (km) dengan 11 tikungan bakal membentang di kawasan yang dibangun Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1961 itu. Sebanyak 24 pembalap dari 12 tim akan berebut menduduki podium di Jakarta.

    Garis start berada di sisi selatan Tugu Monas tepat di Jalan Pelataran Merdeka. Pembalap melaju ke arah Pintu Tenggara Monas dekat Stasiun Gambir. Mereka lalu beradu akselerasi di trek lurus Jalan Medan Merdeka Selatan.

    Selanjutnya, pembalap berbelok di kawasan Patung Arjuna Wiwaha untuk masuk ke kawasan Monas lewat Pintu Barat Daya. Mereka lalu kembali ke sisi selatan Monas.
     
    Selain lintasan balap, ada tiga kawasan di Monas yang bakal digunakan. Sisi barat laut Monas dijadikan sebagai kawasan e-village dan fan zone. Kawasan ini berfungsi sebagai wahana edukasi dan rekreasi publik untuk mengenalkan teknologi ramah lingkungan.
     
    Sisi selatan Monas digunakan sebagai area terbatas bagi tamu penting yang bisa langsung mengakses garasi peserta balap mobil listrik itu. Sementara itu, Jalan Pelataran Merdeka sisi barat Monas menjadi kawasan khusus media dan staf pelaksana kegiatan Formula E.
     
    Namun, keputusan memakai kawasan penuh sejarah itu penuh dinamika. Pro dan kontra menyelimuti perhelatan Formula E yang diinisiasi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam kunjungan ke New York, Amerika Serikat, Juli 2019.

    Setelah Lampu Hijau Menyala di Sirkuit Monas
    Desain sementara sirkuit Formula E di Monas, Jakarta. Foto: Istimewa

    1. Syarat ketat

    Komisi Pengarah tak sembarang mengobral Monas untuk menjadi tempat jet darat memamerkan kecepatannya. Pemprov DKI Jakarta harus memperhatikan sejumlah hal dalam pelaksanaan Formula E.

    Konstruksi lintasan, tribun penonton, dan fasilitas harus sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. Pemprov wajib menjaga keasrian, kelestarian vegetasi, dan kebersihan kawasan Medan Merdeka. 

    Keamanan dan ketertiban juga harus diperhatikan dalam kejuaraan yang sudah berlangsung sejak 2014 itu. Instansi terkait wajib dilibatkan Pemprov untuk menghindari perubahan fungsi, kerusakan lingkungan, dan cagar budaya.

    "Nanti semua dikonsultasikan dengan pengarahnya karena kebetulan nanti akan disesuaikan (sirkuit Formula E dengan kawasan Monas)," ucap Sekretaris Komisi B DPRD DKI Jakarta Pandapotan Sinaga di DPRD DKI, Jakarta Pusat, Senin, 10 Februari 2020.

    2. Momen promosi

    Pengamat olahraga bermotor, Arief Kurniawan, menyebut Formula E di Jakarta harus mendapat dukungan penuh. Momen ini bisa dijadikan ajang memperkenalkan Jakarta, bahkan Indonesia.
     
    "Olahraga ini etalase paling efektif untuk mempromosikan sebuah kota, ikon, apalagi negara," kata Arief kepada Medcom.id, Selasa, 11 Februari.

    Menurut dia, Formula E disiarkan langsung di lebih dari 50 negara. Ada puluhan juta pasang mata yang menyaksikan balapan ini. 
     
    "Jangka pendeknya ketika balapan digelar, Jakarta jadi omongan di 50 negara secara live," jelas dia.

    Pemilihan Monas sebagai lokasi balapan dianggap tepat. Pasalnya, Monas memiliki tempat terbuka yang luas untuk kebutuhan balapan Formula E.

    "Untuk balapan internasional, yang dilihat pertama kali adalah butuh tempat terbuka. Buat apa? Buat paddock, peralatan TV, hospitality, parkir, itu penting," jelas Arief.

    3. Berpotensi buntung

    Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI menyangsikan Formula E bakal membawa untung. Sejumlah negara tuan rumah Formula E disebut sudah meraskan pil pahit.

    "Besarnya anggaran pelaksanaan racing ini di Hong Kong 2016 adalah HKD250-300 juta (Rp440 miliar sampai Rp528 miliar) dan dihasilkan untung hanya HKD50 juta (Rp88 miliar)," kata anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Gilbert Simanjuntak di Jakarta, Selasa, 11 Februari 2020.

    Sementara itu, kata dia, anggaran yang digelontorkan DKI demi ajang balapan mobil listrik itu mencapai Rp1,16 triliun. Dia heran mengapa biaya penyelenggaraan di Jakarta dua kali lipat dibandingkan Hong Kong.

    Gilbert meminta Gubernur Anies berkaca pada perhelatan Formula E di negara lain. Dia mengatakan ajang Formula E di Montreal, Kanada, pada 2016-2017 juga defisit.
     
    Sementara itu, perhelatan Formula E di Moskow, Rusia, dibatalkan. Acara selama dua hari itu, kata dia, dipercaya membuat kota Moskow semakin macet.

    Gilbert menilai masalah bakal muncul bila Formula E dipaksakan digelar di Ibu Kota. Pasalnya, Jakarta masuk peringkat 10 kota termacet di dunia.

    4. Memancing investor

    Wakil Ketua DPRD DKI Fraksi Gerindra Muhammad Taufik mengatakan Formula E di Jakarta justru bisa memancing investor asing masuk ke Indonesia. Bila ajang sukses, dunia internasional akan menganggap Indonesia aman.

    "Otomatis investor akan masuk. Jadi untungnya di situ," kata Taufik di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Februari 2020.

    Menurut dia, ajang Formula E tak bisa disandingkan dengan skema jualan barang atau jasa yang begitu dibuka, langsung menghasilkan keuntungan. Hal ini yang kerap salah dipersepsikan.

    Dia menekankan dalam hitungan tahun, Jakarta tidak lagi menjadi ibu kota negara. Kegiatan internasional seperti Formula E perlu diperbanyak demi memastikan Jakarta terus berkembang.





    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id