Menilik Kawasan RW Kumuh di Kampung Pulo

    Whisnu Mardiansyah - 20 November 2017 15:55 WIB
    Menilik Kawasan RW Kumuh di Kampung Pulo
    Wilayah Kampung Melayu, Jatinegara, Jaktim lebih dikenal sebagai Kampung Pulo, termasuk kawasan RW kumuh dengan kategori berat menurut Data BPS DKI Jakart.
    Jakarta: Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mewacanakan akan menata 16 permukiman kumuh di Ibu Kota. Data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat ada lima kawasan rukun warga (RW) kumuh dengan kategori berat yang tersebar di wilayah Ibu Kota.

    Kepala Seksi Ketahanan BPS DKI Robert menjelaskan, dari data terakhir sensus BPS tahun 2013, daerah berkategori kumuh berat itu antara lain di RW 12 Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng Jakarta Barat; RW 17 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara; RW 12 Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara; serta RW 02 dan 03 Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur.

    medcom.id menelusuri salah satu kawasan terkumuh di Jakarta yang terletak di RW 02 dan 03 Kampung Melayu, Jatinegara, atau dikenal dengan kawasan Kampung Pulo. Dari data BPS DKI Jakarta tahun 2013, kedua RW ini memiliki masing-masing luas sekitar 3,7 ha dan 3,36 ha. Dengan lahan seluas itu, RW 02 dan 03 dihuni kurang lebih 4.356 jiwa dan 5.032 jiwa. Artinya, setiap hektare lahan di Kampung Pulo harus dihuni kurang lebih 1.500 jiwa.

    Dua wilayah di Kampung Pulo itu menurut Robert akan kembali disensus akhir bulan ini. Hasil rekomendasi dari BPS akan diserahkan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Namun, Robert tidak tahu apakah kawasan ini menjadi salah satu kawasan yang akan ditata Pemprov DKI.

    Menilik Kawasan RW Kumuh di Kampung Pulo
    Ilustrasi permukiman kumuh. Foto: MTVN/Mohammad Rizal.

    Ketua RW 03 Aga mengatakan jumlah penduduk di wilayahnya sedikit mengalami penyusutan sejak dua tahun terakhir. Dari 16 RT kini hanya tersisa 12 RT saja. Hal itu tidak lain karena sebagian warganya terkena dampak proyek normalisasi Kali Ciliwung.

    "Kurang lebih hanya tersisa 1.200 kepala keluarga," kata Aga saat ditemui medcom.id di rumahnya RW 03, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin 20 November 2017.

    Baca juga: Konsep Penataan Permukiman Anies-Sandi belum Rampung

    Saat memasuki kawasan Kampung Pulo tak ada akses jalan untuk kendaraan roda empat saking sempitnya lebar jalan. Satu-satunya akses kendaraan roda empat melalui jalan inspeksi normalisasi Kali Ciliwung. Itu pun kendaraan roda empat hanya bisa terparkir di pinggir tak bisa memasuki akses masuk kampung.

    Satu-satunya akses menggunakan kendaraan roda dua. Jalanan warga tak kurang dari lebarnya satu setengah meter. Nyaris tak ada rumah-rumah warga yang memiliki halaman rumah. Mayoritas rumah-rumah warga dibangun semi permanen dan berlantai dua.

    Kendaraan roda dua pun tak bisa leluasa memacu kendaraannya. Pengendara harus berbagi tempat dengan kendaraan yang terparkir di jalan dan anak-anak yang memanfaatkan gang sempit sebagai sarana bermain mereka. Saat berkeliling nyaris tak ditemukan sarana fasilitas publik.

    Baca juga: Menengok RW 16 Kapuk, Kawasan Terpadat dan Kumuh di Jakarta

    Di beberapa lokasi seperti di RT 08 RW 03, rumah-rumah warga saling berhimpitan bahkan menghalangi akses masuknya sinar matahari. Dengan kondisi seperti ini, menjadi salah satu dari 11 variabel yang dikategorikan sebagai kawasan kumuh oleh BPS DKI Jakarta.

    Dari pantauan, warga-warga tampak asyik bercengkrama dengan sesama tetangga mereka. Berbagi ruang tempat tinggal seolah tak menjadi persoalan bagi mereka. Tak sedikit ditemukan, warga menggelar dagangannya di depan rumah mereka.

    "Emang dari dulu udah padat," kata Iin, salah satu warga.

    Aga mengatakan mayoritas penduduk di wilayahnya sebagai buruh dan pedagang kecil-kecilan. Dengan penghasilan pas-pasan. Termasuk dirinya pun hanya berprofesi sebagai tukang ojek online. Tak ada pilihan lain bagi warga untuk mencari tempat tinggal yang lebih layak.

    Baca juga: Jakarta Sisakan 223 RW Kumuh Sejak 2013

    Meski hidup berimpitan, Aga selalu mengingatkan warganya selalu menjaga lingkungan. Apalagi saluran drainase.

    "Sekarang tinggal di tempat padat begini kendalanya kesadaran masing-masing warga. Kalau banjir jangan selalu menyalahkan RT/RW," ujarnya.

    Meski tinggal dikawasan berhimpitan, Aga mengatakan wilayahnya masih diakui kepengurusan RT/RW secara sah. Ia menampik dirinya tinggal di kawasan hunian terlarang. "Ini sah RT/RW-nya. Saya sedari kecil di sini," ucapnya.

    Aga sendiri belum mendapatkan kabar mengenai rencana penataan 16 kawasan kumuh di Jakarta. Belum ada rencana penataan ataupun relokasi di wilayahnya.

    "Belum denger kabar. Kalau sekarang Kampung Pulo enggak sekumuh dulu. Mungkin yang paling terkenal Kampung Pulo," kata dia.





    (MBM)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id