Desain Kali Besar Berubah Fungsi Jadi Kolam

    Akmal Fauzi - 19 Juli 2018 10:04 WIB
    Desain Kali Besar Berubah Fungsi Jadi Kolam
    Keindahan lanskap bangunan tua yang berdampingan dengan taman Kali Besar kawasan Kota Tua, Jakarta. Foto: MI/Pius Erlangga.



    Jakarta: Kali Besar, Kota Tua, Jakarta Barat, setelah direvalitasi dianggap berubah fungsi seperti kolam. Pasalnya, dua sisi Kali Besar dibuat tanggul setinggi dua meter. Desain itu dikhawatirkan justru akan membuat banjir di kawasan itu.

    "Saya belum bisa memahami persis penataan Kali Besar yang didesain sekarang ini. Kalau dilihat air di Kali Besar kemungkinan agak terhambat jika banjir dan meluap," kata arkeolog Candrian Attahiyat di Jakarta, Rabu, 18 Juli 2018.

     



    Tanggul dibuat dari beton di sisi yang mengarah ke Kali Krukut dan yang mengarah ke muara Pantai Sunda Kelapa. Belum lagi, ada taman apung yang dibuat di tengah aliran kali. Jika banjir, air bisa meluap ke dua sisi jalan di Kali Besar.

    Kali Kerukut dari kawasan Asemka mengarah Kali Besar saat ini dalam kondisi dangkal. Di tempat itu juga terdapat mesin penyaring air yang mengalir ke Kali Besar menggunakan pipa.

    Saat hujan, aliran kali praktis tidak mengalir karena terhalang tanggul dan bisa merendam mesin. Begitupun di Kali Besar, debit air tidak bisa menampung karena dua sisinya terhalang tanggul.

    Kali Besar bila meluap bisa menggenang Jalan Kali Besar Barat dan Timur. Banjir juga bisa menggenang kawasan Glodok dan jalan di Stasiun Jakarta Kota.

    Baca: Kota Tua Jakarta Masih Berupaya Masuk Daftar Warisan Dunia

    Hal yang harusnya diperhatikan, sambung dia, yakni soal mitigasi bencana banjir dari penataan Kali Besar yang belum terlihat. Perubahan fungsi Kali Besar itu menjadi salah satu catatan UNESCO menolak Kota Tua menjadi kawasan world heritage.

    Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Norviadi S Husodo menyebut arsitek Budi Lim ialah orang yang ditunjuk mengerjakan proyek Kali Besar oleh Pemerintah Provinsi DKI pada 2014. Namun, Budi Lim saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon belum merespons.

    Ketua Komunitas Jakarta Heritage Trust Robert Tambunan mengaku pernah protes desain yang dirancang Budi Lim pada 2014. Ia menilai desain menyalahi aturan cagar budaya karena telah mengubah fungsi. 

    "Hujan pada 2013 saja meluap apalagi ditutup akses (dengan tanggul) seperti itu," pungkas dia.



    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id