comscore

Formula E Dinilai Sebagai Ajang Kampanye Kendaraan Ramah Lingkungan

Atalya Puspa - 20 Mei 2022 02:07 WIB
Formula E Dinilai Sebagai Ajang Kampanye Kendaraan Ramah Lingkungan
Foto udara progres pembangunan Sirkuit Formula E di kawasan Ancol, Jakarta. MI Andri Widiyanto
Jakarta: Ajang Formula E yang digelar di Jakarta pada 4 Juli mendatang disebut sebagai greensportaiment pertama di Indonesia. Konsep zero emission yang diusung dalam ajang tersebut terwujud dari penggunaan kendaraan ramah lingkungan, peniadaan plastik sekali pakai, dan pembangunan sirkuit yang mengedepankan aspek lingkungan.

Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengungkapkan Formula-E yang mengusung konsep sustainable merupakan salah satu kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya beralih ke kendaraan ramah lingkungan. "Ajang ini sangat baik untuk membuktikan bahwa kendaraan listrik ramah lingkungan bisa digunakan di arena balap, serta membuktikan bahwa energi listrik yang digunakan di kendaraan bermotor juga aman," kata Fahmy dilansir Media Indonesia, Kamis, 19 Mei 2022.
Baca: Rahasia Pembangunan Sirkuit Formula E Selesai dalam 60 Hari

Ia memerinci transportasi menyumbang sebesar 24,64 persen emisi. Angka tersebut merupakan terbesar kedua setelah industri produsen energi sebesar 43,83 persen. Disusul manufaktur dan konstruksi sebesar 21,64 persen, dan sektor lainnya sebesar 4,13 persen.

Dia menilai pemerintah Indonesia sangat serius dalam membangun industri mobil listrik di Indonesia. Hal itu terlihat dari ketegasan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang melarang ekspor nikel, kemudian membangun pabrik baterai di Indonesia, hingga melakukan perbincangan serius dengan Elon Musk yang sudah berpengalaman dalam industri mobil listrik.

"Itu upaya yang sangat serius untuk mengundang investor yang sudah berpengalaman. Meskipun Indonesia sudah memiliki pabrik baterai, tapi kita butuh teknologi, dan kita harus belajar dari negara-negara yang telah berpengalaman seperti Amerika, Korea, Jepang," ungkap dia.

Fahmy mengakui, peralihan ke kendaraan listrik memang tidak dapat dilakukan mendadak. Butuh proses yang panjang mulai dari persiapan industri, sosialisasi ke masyarakat, hingga pemberian insentif.

Terpisah, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengungkapkan bahwa emisi karbon yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor di Indonesia pada 2019 sudah mencapai 255 juta ton CO2. Angka itu akan sangat berkontribusi pada kenaikan emisi karbon yang diprediksi mencapai 470 juta ton CO2 pada 2030.

"Namun, penggunaan kendaraan listrik akan berpotensi menurunkan emisi pencemaran udara kota dan gas rumah kaca hingga 100 persen pada 2030 mendatang," ungkap dia.

Penggunaan kendaraan bermotor yang konsisten juga mampu memberikan keuntungan secara ekonomi hingga Rp9.603 triliun pada 2030. Angka tersebut didapatkan dari penghematan energi fosil dan bahan bakar minyak yang biasa digunakan untuk kendaraan bermotor.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id