Integrasi Angkutan Massal Masih Jadi Pekerjaan Rumah Pemerintah

    Arga sumantri, Kautsar Widya Prabowo - 25 Januari 2020 19:22 WIB
    Integrasi Angkutan Massal Masih Jadi Pekerjaan Rumah Pemerintah
    Ilustrasi. Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
    Jakarta: Pembanguan moda raya terpadu (MRT) dan lintas raya terpadu (LRT) jadi penanda era baru transportasi massal Tanah Air. Dua moda ini digadang-gadang menjadi tulang punggung angkutan massal di Jakarta dan wilayah sekitarnya.

    Keberadaan kedua moda itu belum cukup menyelesaikan masalah kemacetan. Integrasi angkutan masih jadi pekerjaan rumah pemerintah.

    MRT yang telah resmi beroperasi komersial yaitu rute Lebak Bulus-Bundaran HI. Rute ini membentang sepanjang 16 kilometer dan memiliki 13 stasiun.

    Enam di antaranya merupakan stasiun bawah tanah, yakni Stasiun Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas, dan Bundaran HI. Tujuh sisanya merupakan stasiun layang meliputi Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan ASEAN.

    "MRT tidak bisa sendirian. Dalam arti, MRT juga harus ditunjang moda lainnya, agar lebih optimal dan maksimal," kata Kepala Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ) Bambang Prihartono kepada Medcom.id, Selasa, 21 Januari 2020.

    Bambang menegaskan MRT membutuhkan dukungan transportasi lainnya, seperti Transjakarta dan LRT. MRT tak bisa sendiri memecahkan budaya masyarakat Ibu Kota dan sekitarnya yang kadung lebih senang bawa kendaraan sendiri.

    Di sisi lain, LRT yang beroperasi komersial saat ini baru melayani rute Jakarta Velodrome-Kelapa Gading. Jarak rute hanya 5,8 kilometer.

    LRT belum jadi pilihan utama angkutan massal warga Jakarta. Penumpangnya justru menurun, terutama sejak diberlakukan tarif berbayar.

    Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan sekitar 7 sampai 8 ribu warga per hari menaiki LRT selama uji coba. Sedangkan hanya kisaran 4 ribu penumpang LRT saban hari setelah tak lagi gratis. Jumlah ini jauh dari target PT LRT Jakarta yang sempat optimistis bisa mengangkut hingga 14 ribu penumpang per hari.

    Rute LRT Jakarta Velodrome-Kelapa Gading cuma membentang 5,8 kilometer. Jarak tempuh yang pendek ini diprediksi menjadi faktor lain merosotnya jumlah penumpang.

    "Coverage area otomatis juga terbatas. Jadi mungkin masyarakat lebih memilih moda lain dalam bertransportasi," kata Syafrin.

    Antusiasme penumpang LRT yang minim tak menyurutkan mengembangkan rute LRT. Pembangunan LRT fase 2A rute Kelapa Gading-Jakarta International Stadium (JIS) pun bakal mulai dilakukan tahun ini dan ditargetkan rampung pada 2022.

    Gerak pengembangan kedua moda itu dirasa tak bakal membuat masyarakat meninggalkan kendaraan pribadinya untuk beraktivitas di Jakarta dan sekitarnya. Pasalnya, pengintegrasian moda penunjang dua angkutan massal itu masih tergolong lambat.





    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id