Monas, Riwayat Mu Dulu

    K. Yudha Wirakusuma - 22 Juni 2017 11:50 WIB
    Monas, Riwayat Mu Dulu
    Sejumlah pegawai Pemprov DKI Jakarta mengikuti upacara peringatan HUT DKI Jakarta ke-490 di Monas, Jakarta--Antara/Aprilio Akbar
    medcom.id, Jakarta: Monas adalah Jakarta, Jakarta adalah Monas. Begitulah adanya. Monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) ini adalah lambang dari Jakarta.

    Monas didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan dari Hindia Belanda. Monumen ini dibangun mulai 17 Agustus 1961 di bawah perintah Presiden RI-1 Soekarno.

    Sebelumnya, pada 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk. Pada 1955 sayembara perancangan Monas digelar.

    Baca: Selamat Ulang Tahun Jakarta

    Ada 51 karya yang masuk, tetapi karya Frederich Silaban akhirnya yang dipilih. Karya Frederich memenuhi semua kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad.

    Sayembara kembali digelar pada 1960. Namun tak satu pun dari 136 peserta memenuhi kriteria. Juri lalu menyodorkan karya Frederich kepada Soekarno, tapi Presiden kurang sreg. Presiden mau monumen itu berbentuk lingga dan yoni.

    Frederich kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu. Frederich manut. Dia lalu merancang karya luar biasa. Tapi, inilah konsekuensinya, ongkosnya sangat mahal. Negara tidak mampu membiayainya.

    Frederich keukeuh. Dia lebih memilih menunda proyek sampai kondisi ekonomi negara stabil ketimbang harus mengurangi spek karyanya.

    Lalu, Seokarno meminta arsitek R.M. Soedarsono melanjutkan rancangan itu dengan menambahkan angka 17, 8 dan 45. Deretan angka itu melambangkan 17 Agustus 1945. Hari Kemerdekaan Indonesia.

    Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki Frederich Silaban dan Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.

    Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas. hal itu melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monas tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

    Pembangunan monas terdiri dari tiga tahap. Pertama, antara 1961/1962-1964/1965. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanam untuk fondasi museum sejarah nasional. Pemancangan fondasi diselesaikan pada Maret 1962.

    Dinding museum di dasar bangunan selesai pada Oktober. Proyek dilanjutkan dengan pembangunan obelisk dan rampung pada Agustus 1963.

    Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968. Tahapan ini sempat tertunda akibat terjadinya Gerakan 30 September.

    Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Monas resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada 12 Juli 1975 oleh Presiden ke-2 Soeharto.

    Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama, yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas.

    Semakin hari Monas semakin rapi. Sekitar Monas juga terdapat  sarana olahraga. Empat lapangan futsal, satu lapangan basket, dan satu lapangan voli.

    Pembangunan lapangan ini dengan standar kualitas tinggi dengan material yang didesain khusus untuk lapangan luar ruangan. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. Monas akan ditutup pada Senin pekan terakhir setiap bulan.

    Belakang Monas juga menjadi tempat para politikus bernazar. Pada 9 Maret 2012, mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum berjanji bersedia digantung di Monas jika terlibat korupsi. "Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di monas," tegasnya, Jumat 9 Maret 2012.

    Ketua DPP Bidang Hukum Partai Gerindra Habiburokhman juga sempat bernazar di Monas. Dia sempat tidak percaya Teman Ahok akan bisa mengumpulkan sejuta KTP dukungan. Melalui Twitter, Habib menyebut, apa yang dilakukan Teman Ahok hanya omong doang.

    "Saya berani terjun bebas dari puncak Monas kalau KTP dukungan Ahok benar cukup untuk nyalon," tulis Habib, 26 Februari 2016.

    Monas juga sempat dijadikan sebagai lokasi aksi damai massa aksi 2 Desember (212). Ribuan, atau jutaan orang melaksanakan salat jumat di Areal Monas hingga ke jalan Mh Thamrin. Kendati dihadiri jumlah massa yang besar, namun aksi ini berlangsung tertib.



    (YDH)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id