KPK: Pengelolaan Limbah Medis di DKI Tak Sesuai Standar

    Fachri Audhia Hafiez - 11 November 2020 17:13 WIB
    KPK: Pengelolaan Limbah Medis di DKI Tak Sesuai Standar
    Ilustrasi/Medcom.id
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan penyortiran limbah medis yang tidak sesuai standar di DKI Jakarta. Sampah medis bercampur dengan limbah lain.

    "Limbah medis pemilihannya pun tidak tepat nih. Jadi ada 'warna-warni' sesuai standar, tapi enggak diterapkan limbah itu seakan dicampur saja," kata Kepala Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan KPK Dian Patria dalam diskusi virtual bertajuk 'Limbah Lagi, Limbah Lagi', Rabu, 11 November 2020.

    Padahal, lanjut Dian, limbah medis punya karakter dan harus diperlakukan berbeda. Beberapa limbah medis meliputi jenis infeksius, sitotoksis, kiwiawi, radioaktif, dan sebagainya.

    "Kita tahu karakter limbah medis ada yang sifatnya infeksius, sitotoksis, tapi perlakuan tidak demikian," ujar Dian.

    Temuan KPK berdasarkan pemantauan 22 Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) di Ibu Kota sejak awal 2020. Lembaga Antikorupsi juga melakukan pemantauan serupa di Makassar, Sulawesi Selatan.

    Di sisi lain, tidak semua puskemas memiliki cold storage atau tempat penyimpanan sementara limbah medis sebelum diangkut dan diolah. Bahkan beberapa fasyankes disebut membiarkan limbah medis tak diangkut.

    "Jadi itu penyimpanan di Ibu Kota ya, boro-boro kita bicara di luar Jawa begitu," ucap dia.

    Penyimpanan dan pengolahan limbah medis diatur dalam Pasal 4 Peraturan Menteri (Permen) Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 56 Tahun 2015. Aturan tersebut menuntut pengelolaan limbah medis sama dengan pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

    Limbah B3 bisa ditimbul di cold storage maksimal dua hari pada temperatur lebih besar dari 0?C (nol derajat celsius). Kemudian 90 hari pada temperatur sama dengan atau lebih rendah dari 0?C.

    Di sisi lain, Dian juga membeberkan temuan pengangkutan limbah medis tak sesuai standar. Spesifikasi kendaraan pengangkut dinilai tidak sesuai.

    "Bahkan ada kendaraan yang campur aduk tuh kadang angkut (bekas) pesanan nasi bungkus buat makan siang di satu rumah sakit, ya kadang ngangkut limbah," ucap Dian.

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id