4 Fakta Kasus Premanisme Pungli di Tanjung Priok

    Cindy - 14 Juni 2021 14:02 WIB
    4 Fakta Kasus Premanisme Pungli di Tanjung Priok
    Ilustrasi medcom.id



    Jakarta: Polda Metro Jaya menangkap puluhan pelaku pungutan liar (pungli) di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Penangkapan didasari instruksi Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pemalakan preman terhadap sopir kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok. 

    Para sopir truk mengeluh kegiatan bongkar muat di depo akan terhambat jika pelaku tidak diberikan uang. Hal ini dikarenakan kontainer tidak diperbolehkan masuk oleh para pelaku pungli. 

     



    Mendapat keluhan itu, Jokowi langsung menghubungi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Jokowi memerintahkan Listyo memberangus praktik premanisme tersebut.

    Baca juga: Telepon Kapolri, Jokowi Perintahkan Basmi Premanisme di Tanjung Priok

    Berikut kumpulan fakta yang dihimpun Medcom.id terkait premanisme di Tanjung Priok:

    1. Sebanyak 50 orang ditangkap

    Tim Gabungan dari Polres Metro Jakarta Utara dan Polres Pelabuhan Tanjung Priok menangkap sebanyak 50 pelaku pungli di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Delapan orang di antaranya karyawan PT Jakarta International Container Terminal (JICT). 

    "Delapan pelaku ini terdiri atas tujuh pelaku karyawan operator crane dan satu orang atasan para pelaku selaku supervisor,” kata Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Putu Kholis kepada Media Indonesia, Minggu, 13 Juni 2021.

    Para pelaku pungli ditangkap di sekitar lokasi Depo Dwipa, Depo Fortune, Arteri NPCT1, dan Cilincing. Putu menyebut mereka yang ditangkap merupakan sindikat. 

    2. Modus pungli berubah-ubah

    Sindikat pungli di Pelabuhan Tanjung Priok disebut memiliki modus yang berubah-ubah. Cara ini untuk mengelabui polisi. 

    "Mereka berubah-ubah modus dan waktu. Khusus di dalam pelabuhan, mereka melakukan bukan di area pintu masuk, namun di dalam kawasan terbatas (1 km masuk ke dalam area terbatas bongkar muat) sehingga sulit terdeteksi,” kata Putu Kholis. 

    Kedelapan pelaku pungli yang merupakan karyawan PT JICT ditangkap satu kilometer dari pintu masuk akses jalan. Mereka ditangkap pada malam hari. 

    Pelaku memanfaatkan longgarnya pengawasan di malam hari. Mereka sengaja mengubah modus agar tidak terdeteksi.

    Baca juga: Selain di Pelabuhan, Preman Tanjung Priok Tersebar di Pertokoan dan Perumahan
     

    3. Pungli dilakukan di tiap pos

    Wakapolres Metro Jakarta Utara, Ajun Komisaris Besar Polisi Nasriadi, menuturkan pungutan  yang dilakukan para oknum terjadi di setiap pos. Pos 1 bagian pintu masuk dengan biaya Rp2.000. 

    Kemudian di pos 2 bagian survei biaya Rp2.000. Pada pos 3 yang merupakan bagian cuci biaya dimintai uang sebesar Rp2.000 atau 5.000. Lalu, di pos 4 bagian angkat kontainer (crane) Rp5.000, hingga pos 5 bagian keluar Rp2000.

    Dalam satu hari, para pelaku pungli bisa mendapat Rp13 ribu per satu kendaraan. Jumlah tersebut belum termasuk premanisme yang ada diluar pos, seperti pemalakan saat kondisi lalu lintas macet. 

    4. Pelaku pungli raup Rp6,5 juta sehari

    Satu kendaraan ditarik pungli sebesar Rp13 ribu per hari. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menyebut ada sekitar 500 kendaraan kontainer yang masuk ke pelabuhan.  

    "Sekitar Rp6,5 juta (untungnya) dan ini yang harus dikeluarkan oleh para sopir-sopir," kata Yusri.

    Baca juga: Puluhan Preman Pelabuhan dan Terminal di Jatim Ditangkap

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id