Permukiman Hulu DAS Ciliwung Terus Meningkat Dalam 10 Tahun Terakhir

    Whisnu Mardiansyah - 07 Februari 2018 22:45 WIB
    Permukiman Hulu DAS Ciliwung Terus Meningkat Dalam 10 Tahun Terakhir
    Ilustrasi permukiman penduduk yang berada di bantaran Sungai Ciliwung, kawasan Bukit Duri, Jakarta, Senin (13/11).



    Jakarta: Dalam sepuluh tahun luas daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung semakin menyusut. Dari total 38.610 hektare luas DAS Ciliwung saat ini, lebih dari setengahnya atau 19.441 hektare atau sekitar 50,36 persen menjadi permukiman.

    Sementara untuk kawasan vegetasi seperti hutan, pertanian, perkebunan dan semak belukar seluas 17.325 hektare atau sekitar 44,88 persen dari total luas wilayah.






    Yang semakin menjadi keprihatinan saat ini adalah semakin menjamurnya kawasan permukiman di hulu sungai, seperti kawasan Megamendung dan Cisarua.

    "Tren pemukiman dari 1249 hektare di tahun 2006 naik menjadi 2046 pada tahun 2016. Ini yang perlu diwaspadai," kata Direktur Perencanaan dan Pengelolaan DAS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Yuliarto saat jumpa pers di kantor KLHK, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Rabu 7 Februari 2018.

    Hal ini berbanding terbalik dengan tren luas kawasan hutan dan pertanian yang justru menurun pada periode 2006-2016. Di tahun 2006 luas lahan hutan di kawasan hulu DAS mencapai 5641 hektare, namun luasnya menurun di tahun 2016 menjadi 5244 hektare.

    Sementara untuk kawasan perkebunan justru meningkat. Pada 2006 luas perkebunan sekitar 544 hektare. Namun jumlahnya meningkat drastis menjadi 904 hektare pada 2015.

    Padahal kata Yuliarto, tingkat penyerapan air di kawasan perkebunan lebih rendah jika dibandingkan kawasan hutan.

    "Karena hutan itu 90 persen menyerap air. Kalau kebun hanya 60-65 persen," jelas Yuliarto.

    Diperparah tren peningkatan debit air hujan dari tahun ke tahun yang semakin meningkat. Dalam sepuluh tahun terakhir, intensitas debit air hujan pada 2006 sebesar 271 meter kubik per detik, jumlah tersebut meningkat menjadi 281 meter kubik per detik pada 2016.

    "Kalau jadi intensitas curah hujan seperti kemarin, maka kan jadi kenaikan debit banjir. Jumlah meningkat karena perubahan tutup lahan," pungkas Yuliarto.

    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id