Pengolahan Sampah di ITF Sunter Diklaim Aman

    Theofilus Ifan Sucipto - 24 Juli 2019 17:32 WIB
    Pengolahan Sampah di ITF Sunter Diklaim Aman
    Pekerja dengan menggunakan alat berat memindahkan sampah di area proyek Fasilitas Pengolahan Sampah Terpadu. Foto: Antara/Aprilio Akbar.
    Jakarta: PT Jakarta Propertindo (Jakpro) yakin proses pengolahan sampah terpadu atau Intermediate Treatment Facility (ITF) tak membawa dampak buruk. Jakpro menyebut instalasi ITF lebih aman ketimbang emisi kendaraan bermotor. 

    "Di ITF, (dampak pengolahan sampah) enam kali lebih aman," kata Corporate Secterary PT Jakpro, Hani Sumarno saat berbincang dengan Medcom.id di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Rabu, 24 Juli 2019. 

    Hani memastikan ITF aman. Alasannya, proses pengolahan sampah yang akan dibangun di kawasan Sunter, Jakarta Utara, menggunakan teknologi combusting, yaitu mengolah sampah dengan cara dipanaskan. Laiknya menyangrai makanan. Dengan proses pemanasan, kata dia, sampah tipe apa pun bisa diserap.

    Baca juga: Anies Mau ITF Sunter Dikebut, tapi Tidak Asal-asalan

    Kendati demikian, Hani mengingatkan agar edukasi dan pemilahan sampah tetap penting dilakukan. Sebab peningkatan volume sampah tidak diimbangi dengan percepatan penyelesaiannya. 

    "Itu (penyelesaiannya) darurat dan (peningkatan volumenya) harus direm. Inilah kenapa kita pakai waste to energy combusting," beber dia. 

    Melalui ITF, DKI Jakarta tidak akan lagi dihadapkan dengan persoalan sampah. Mengingat usia Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, diprediksi tak lagi lama. TPST Bantar Gebang akan ditutup pada 2021.

    Hani juga berargumen upaya pengurangan sampah utamanya plastik dan styrofoam belum maksimal di hulu. Diharapkan, ITF bisa menjawab kebutuhan pengelolaan sampah. 

    ITF Sunter, lanjutnya, bukan menjadi proyek coba-coba. PT Jakpro berkiblat pada ITF serupa di negara maju seperti Finlandia dan Swedia. 

    Baca juga: Masyarakat Diminta Membiasakan Diri Memilah Sampah

    Dalam melakukan konstruksi, PT Jakpro menggandeng kontraktor asal Finlandia, Fortum Power. Mereka dinilai berkompeten dan memiliki jam terbang tinggi.

    "Jadi pilihan ini cukup meyakinkan dan bukan meraba-raba lagi," pungkas Hani.

    Sebelumnya, Juru kampanye urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Rasyadi meminta rencana pembuatan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) harus disusun secara matang. Atha menilai PLTSa memiliki risiko yang dapat menyebabkan kanker.

    “Ketika sampah plastik bercampur jenis sampah lain dibakar, sangat berpotensi melepas material berbahaya ke udara seperti dioksin yang bisa memicu kanker,” kata Atha kepada Medcom.id, Selasa 23 Juli 2019.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id