Mediasi Gugatan Fara Luwia Mandek

    Yogi Bayu Aji - 29 April 2021 20:52 WIB
    Mediasi Gugatan Fara Luwia Mandek
    Ilustrasi: Medcom.id



    Jakarta: Sidang kasus gugatan pendiri PT Lumbung Padi Indonesia (LPI), Fara Luwia, terhadap dua anak usaha Wilmar Group di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) mandek. Tergugat I PT Sentratama Niaga Indonesia (SNI), tergugat II PT Natura Wahana Gemilang (NWG), dan PT LPI selaku turut tergugat, gagal menghadirkan prinsipal, yakni Wilmar Group, selaku induk usaha. Mediasi yang menjadi agenda utama persidangan menjadi terhambat. 

    Pada Kamis, 29 April 2021, di PN Jakpus menggelar sidang gugatan Fara Luwia terhadap PT SNI, PT NWG, dan PT LPI terkait pengambilalihan saham secara tidak sah. Setelah pemeriksaan dokumen selesai, Majelis Hakim mempersilakan para pihak masuk ke agenda sidang berikutnya, mediasi.






    Namun, mediasi terganjal lantaran Wilmar Group selaku prinsipal dari para tergugat tidak dapat dihadirkan di persidangan. Sementara itu, kuasa hukum PT SNI dan PT NWG tidak mampu mengambil keputusan apa pun dalam mediasi. 

    Baca: Eks Anggota BPK Rizal Djalil Divonis 4 Tahun Penjara

    “Dari pihak kami sudah menghadirkan decision maker (principal), yakni Ibu Fara Luwia, langsung di ruang persidangan, terlebih lagi gugatan kami sudah terdaftar sejak tanggal 26 Maret 2021. Seharusnya dari pihak Wilmar Group sudah mengetahui adanya gugatan yang kami ajukan," kata kuasa hukum Fara Luwia, Melky Pranata Koedoeboen, dalam keterangan tertulis, Kamis, 29 April 2021.

    Menurut dia, apabila Wilmar Group selaku decision maker dapat dihadirkan di persidangan, mediasi dapat berlangsung dengan lancar. Para tergugat dinilai sedang buying time.

    "Sebab, sidang perdana kasus ini sejatinya sudah dimulai dari tanggal 22 April 2021. Akan tetapi, ketika itu kuasa hukum pihak SNI dan NWG tidak dapat menunjukkan kelengkapan dokumen sidang," imbuh Melky.

    SNI dan NWG digugat Fara Luwia serta Farma International Pte Ltd terkait dugaan pengambilalihan saham PT LPI secara tidak sah. Kasus tersebut bermula ketika pada 2017 PT LPI kesulitan membayar utang sekitar Rp286,8 miliar kepada sejumlah kreditur, yakni Maybank, Mattsteph Holding, Emerging Asia Capital Partners (EACP), dan TAEL Group.

    Darwin Indigo, Country Head Wilmar International Ltd untuk Indonesia, menawarkan kerja sama bisnis kepada Fara Luwia untuk pengembangan usaha sekaligus membantu menyelesaikan utang. Setelah kerja sama disepakati, Fara Luwia tidak pernah dilibatkan soal proses uji tuntas hukum dan audit keuangan terhadap PT LPI.

    Fara Luwia menduga utang-utang itu diciptakan untuk mengambil alih 100 persen saham PT LPI. Fara Luwia harus terdepak dari perusahaan. 

    Nilai valuasi 100 persen saham PT LPI juga dianggap tidak sesuai fakta. Tergugat menawarkan valuasi Rp214,61 miliar, jauh lebih rendah dari pada hasil valuasi KJPP Areyanti Junita yang menyebut nilai pasar aset PT LPI mencapai Rp280,21 miliar.

    “Lebih aneh lagi, ketika 100 persen saham PT LPI diambil alih oleh para tergugat, ternyata klien kami justru masih harus menanggung utang hingga Rp130,99 miliar yang harus dibayarkan kepada PT SNI," jelas Melky.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id