Saksi Kunci Kasus Ekspor Benur Sakit Sebelum Meninggal

    Fachri Audhia Hafiez - 05 Januari 2021 19:07 WIB
    Saksi Kunci Kasus Ekspor Benur Sakit Sebelum Meninggal
    Gedung Merah Putih KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto
    Jakarta: Keluarga mengungkapkan penyebab kematian Direktur PT Perishable Logistic Indonesia (PLI) Deden Deni Purnama. Almarhum meninggal karena sakit yang diderita sejak lama.

    "Terkait rincian penyakit yang diderita, pihak keluarga menyatakan hal tersebut termasuk privasi keluarga," kata perwakilan keluarga Deden, Junaedi, dalam keterangan tertulis, Selasa, 5 Januari 2021.

    Menurut dia, Deden menderita penyakit komplikasi menahun yang kerap kambuh akibat kelelahan. Deden dirawat di Rumah Sakit Ciputra Tangerang sejak 19 Desember 2020.

    Baca: KPK Perdalam Kasus Korupsi Ekspor Benih Lobster Melalui 2 Saksi

    "Deden Deni Purnama Bin H Ooy Ubaidilah meninggal pada Kamis, 31 Desember 2020, pukul 16.35 WIB," ujar Junaedi.

    Deden merupakan saksi penting di kasus dugaan korupsi ekspor benih lobster yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Deden sudah dicegah bepergian ke luar negeri hingga enam bulan.

    Pencegahan itu agar KPK tidak sulit menghubungi Deden saat diperlukan. Lembaga Antikorupsi memastikan wafatnya Deden tidak mengubah pola pemeriksaan atau membuat proses penyidikan mandek.

    "Sejauh ini masih berjalan dan tentu masih banyak saksi dan alat bukti  lain yang memperkuat pembuktian rangkaian perbuatan dugaan korupsi para tersangka," tegas pelaksana tugas (Plt) juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri saat dikonfirmasi, Senin, 4 Januari 2021.

    Kasus ini menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Edhy Prabowo. Dia ditetapkan sebagai tersangka bersama enam orang lainnya.

    Sebanyak enam tersangka diduga menerima suap. Mereka ialah Edhy Prabowo; Staf Khusus Menteri KP Safri dan Andreau Pribadi Misanta; pengurus PT ACK Siswadi; istri staf menteri KP Ainul Faqih; sekretaris pribadi Edhy, Amiril Mukminin.

    Seorang tersangka diduga sebagai pemberi, yakni Direktur PT DPP Suharjito. Edhy diduga menerima Rp3,4 miliar dan US$100 ribu dalam korupsi tersebut. Sebagian uang digunakan Edhy Prabowo untuk berbelanja bersama istri, Andreau, dan Safri di Honolulu, Hawaii.

    Kementerian Kelautan dan Perikanan diduga memonopoli ekspor benih lobster. Pasalnya, ekspor benih lobster hanya bisa dilakukan melalui PT ACK dengan biaya angkut Rp1.800 per ekor.

    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id