comscore

Penanam Modal Pabrik Obat Ilegal di Yogyakarta Ditangkap

Siti Yona Hukmana - 05 Oktober 2021 10:39 WIB
Penanam Modal Pabrik Obat Ilegal di Yogyakarta Ditangkap
ilustrasi/medcom.id
Jakarta: Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri terus mengusut kasus pembuatan obat keras ilegal di dua pabrik yang berada di Yogyakarta. Penanam modal pabrik obat berbahaya itu ditangkap. 

"Pemodalnya berinisial S alias C," kata Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Krisno Halomoan Siregar saat dikonfirmasi, Selasa, 5 Oktober 2021. 
Krisno mengatakan S alias C ditangkap pada Jumat, 1 Oktober 2021. S disebut pihak yang paling banyak mendapat keuntungan dari operasional pabrik ilegal tersebut.

Selain S, polisi menangkap satu tersangka yang masuk daftar pencarian orang (DPO). Dia merupakan penyambung antara penanam modal dan pemilik pabrik. 

"DPO berinisial EY yang merupakan pengendali dan yang berkomunikasi intens dengan Joko selaku pemilik pabrik yang juga telah ditangkap," ujar jenderal bintang satu itu.

Total 17 pelaku ditangkap dalam kasus ini. Sebelumnya, polisi menangkap 15 tersangka.

Krisno membentuk dua tim untuk menuntaskan kasus itu. Ada tim yang ditugaskan menuntaskan perkara pokok dan tim pencarian bukti tindak pidana pencucian uang (TPPU).

"Arahnya memang ke sana (TPPU) dan masih dalam proses pendalaman," ungkap Krisno.

Baca: Antisipasi Gudang Obat Ilegal, Bantul Tertibkan Izin Pergudangan

Polisi menggerebek dua gudang tempat pembuatan obat terlarang di Jalan PGRI I Sonosweu, Nomor 158, Ngestiharjo, Kasihan Bantu, Yogyakarta, sekitar pukul 23.00 WIB pada Selasa, 21 September 2021 dan Jalan Siliwangi, Ring Road Barat, Pelem Gurih, Bayuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta pada Rabu, 22 September 2021. Polisi menangkap para tersangka, salah satunya pemilik pabrik tersebut, Joko Slamet Riyadi. 

Polisi menyita sejumlah barang bukti. Antara lain 30.345.000 butir obat keras yang dikemas menjadi 1.200 colli paket dus, sembilan mesin cetak pil Hexymer, DMP dan Doubel L, lima mesin oven obat, dua mesin pewarna obat, satu mesin cording/printing untuk pencetak, 300 sak lactose dengan berat total sekitar 800 kg, 100 kg adonan bahan pembuatan obat keras, 500 kardus warna coklat,dan 500 botol kosong tempat penyimpanan obat keras.

Para tersangka telah ditahan. Mereka dijerat Pasal 60 Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja atas perubahan Pasal 197 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan subsider Pasal 196 dan/atau Pasal 198 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Juncto Pasal 55 KUHP. Dengan ancaman pidana selama 15 tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar subsider 10 tahun penjara.  

Para tersangka juga dijerat Pasal 60 UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp200 juta.

(NUR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id