comscore

Eks Dirjen Keuda Kemendagri Tersangka Kasus Suap Dana PEN Daerah

Candra Yuri Nuralam - 27 Januari 2022 18:04 WIB
Eks Dirjen Keuda Kemendagri Tersangka Kasus Suap Dana PEN Daerah
Direktur Jenderal Keuangan Daerah (Dirjen Keuda) Kemendagri Mochamad Ardian Noervianto sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap pengajuan dana pemulihan ekonomi nasiona. Foto: Medcom/Candra
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mantan Direktur Jenderal Keuangan Daerah (Dirjen Keuda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Mochamad Ardian Noervianto sebagai tersangka kasus dugaan suap pengajuan dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk Kabupaten Kolaka Timur pada 2021. Penetapan tersangka berdasarkan bukti yang cukup.

"Penetapan tersangka setelah dilakukan pengumpulan dari berbagai informasi dan data yang kemudian ditemukan adanya bukti permulaan yang cukup," kata Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Karyoto di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis, 27 Januari 2022.
KPK juga menetapkan dua tersangka lain dalam kasus suap dana pemulihan pandemi covid-19 ini. Keduanya ialah Bupati nonaktif Kolaka Timur Andi Merya Nur dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muna Laode M Syukur Akbar. Ardian diduga memanfaatkan jabatannya untuk mengambil keuntungan pribadi usai diberikan tugas mengatur investasi pinjaman PEN dari pemerintah pusat ke daerah pada 2021.

Kasus ini bermula saat Andi meminta bantuan Laode dipertemukan dengan Ardian sekitar Maret 2021. Andi dan Ardian kemudian bertemu sekitar Mei 2021. Dalam pertemuan itu, Andi mengajukan permohonan pinjaman dana PEN untuk Kolaka Timur sebesar Rp350 miliar.

"Dan meminta agar tersangka MAN (Mochamad Ardian Noervianto) mengawal dan mendukung proses pengajuannya," ujar Karyoto.

Baca:  KPK Dalami Prosedur Pinjaman Dana PEN Daerah dari Eks Dirjen Keuda Kemendagri

Atas permintaan itu, Ardian diduga meminta jatah tiga persen dari nilai pengajuan pinjaman ke Andi. Beberapa waktu setelahnya Andi mengirimkan Rp2 miliar dengan pecahan dua mata uang asing melalui bantuan Laode untuk Ardian.

"Dari uang Rp2 miliar tersebut, diduga dilakukan pembagian di mana tersangka MAN menerima dalam bentuk mata uang dolar Singapura sebesar SDG131 ribu setara dengan Rp1,5 miliar, yang diberikan langsung di rumah pribadinya di Jakarta dan tersangka LMSA (Laode) menerima sebesar Rp500 juta," tutur Karyoto.

Setelah uang muka itu diterima, Ardian langsung mengerjakan permintaan pinjaman PEN Kolaka Timur dengan membuat draft final surat Menteri Dalam Negeri ke Menteri Keuangan. KPK juga menduga ada pengajuan dana daerah lain yang dimainkan Ardian.

"Akan didalami lebih lanjut oleh tim penyidik," ucap Karyoto.

KPK juga menahan Laode selama 20 hari pertama per hari ini. Dia ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) KPK cabang Pomdam Jaya Guntur.

"Dimulai tanggal 27 Januari 2022 sampai dengan 15 Februari 2022," kata Karyoto.

Ardian belum ditahan karena beralasan sakit saat dipanggil penyidik. Sementara itu, Andi tidak ditahan karena sedang menjalani perkara dugaan suap pengadaan barang dan jasa di Kolaka Timur.

Andi disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Sementara itu, Ardian dan Laode disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

(NUR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id