Kemenkumham di Tangan Yasonna Payah Mengelola Lapas

    Juven Martua Sitompul - 18 Oktober 2019 15:00 WIB
    Kemenkumham di Tangan Yasonna Payah Mengelola Lapas
    Ilustrasi Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Foto: MI/Bayu Anggoro
    Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dinilai belum maksimal mengelola Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Hal ini merujuk banyaknya persoalan pengelolaan di sejumlah lapas dalam lima tahun kepemimpinan Menteri Yasonna H Laoly.

    Di antaranya, praktik suap jual beli fasilitas sel mewah di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Termasuk, perdagangan narkotika di beberapa Lapas.

    “Memang harus diakui di bidang Lapas, ada kekurangan-kekurangan seperti tersebut (praktik jual beli sel mewah), juga insider narcotics trading,” kata pakar hukum pidana Indriyanto Seno Adji kepada Medcom.id, Jakarta, Jumat, 18 Oktober 2019.

    Praktik suap jual beli fasilitas mewah lapas dilakukan terpidana korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui operasi tangkap tangan (OTT) membongkar praktik itu. 

    KPK menetapkan mantan Kalapas Sukamiskin Wahid Husein tersangka. Dia diduga menerima uang, barang mewah, termasuk mobil dari terpidana korupsi sebagai ‘upah’ kamar mewah di lapas. 

    KPK juga menetapkan mantan Kalapas Sukamiskin Deddy Handoko sebagai tersangka terkait kasus lapas mewah. Deddy mendapat mobil dari terpidana korupsi Tubagus Chaeri Wardana. Pemberian agar Wawan mudah keluar penjara. 

    Setahun sebelumnya atau pada 2017 praktik lapas mewah juga terbongkar di Lapas Cipinang, Jakarta Timur. Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan satu unit laptop atau komputer jinjing, satu unit Ipad, empat unit telepon genggam, satu unit token, AC serta CCTV untuk memonitor setiap orang yang datang di ruang tahanan terpidana kasus narkotika, Haryanto Chandra alias Gombak. 

    Terpidana korupsi pelesiran ke luar lapas juga menjadi catatan. Antara lain, Setya Novanto, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, Gayus Halomoan Tambunan, M Nazaruddin, hingga Rachmat Yasin. 

    Novanto kedapatan pelesiran ke salah satu toko bangunan di Padalarang, sedangkan Wawan ‘ngamar’ di sebuah hotel di Bandung dengan seorang perempuan. Praktik kotor ini jelas mencoreng penegakan hukum di tanah air.

    Kendati begitu, menurut Indriyanto, ada hal yang lebih penting disorot ketimbang kegagalan tersebut. Indriyanto mengajak semua pihak melihat upaya Kemenkumham memperbaiki sistem dan pengawasan secara kelembagaan.

    “Restrukturisasi kelembagaan (lapas) dengan sistem pengawasan ini telah berhasil menekan atau mengurangi pelanggaran-pelanggaran internal semacam hal tersebut,” kata dia.

    Indriyanto menilai Kemenkumham berhasil memperbaiki sistem lewat pendekatan. Jumlah pelanggaran yang terjadi di lapas tidak bisa jadi rujukan Kemenkumham gagal di tangan Yasonna.

    “Bagi saya, bukan case by case basis, tapi memandangnya perbaikan sistem secara luas,” ucap dia. 

    Indriyanto memandang Yasonna berhasil menjalankan tugas-tugas dengan baik. Dia menyebut kerja Kemenkumham lima tahun terakhir senapas dengan Nawa Cita.

    “Yaitu peningkatan dan perbaikan sistem hukum, yang dalam hal ini Kemenkumham sudah menjalankan program secara terintegrasi dan paralel,” ujar dia.

    Salah satu yang ditilik Indriyanto yaitu pemberian remisi atau pengurangan masa hukuman pada narapidana. Pemberian remisi dianggap sesuai dengan parameter Peraturan Pemerintah (PP) yang berlaku.

    Kemenkumham sejauh ini juga dinilai telah membayar utang kasus-kasus pelanggaran HAM. Kemenkumham di tangan Yasonna dianggap lebih progresif menyelesaikan polemik hukum dan HAM di Indonesia. 

    Mantan komisioner KPK ini tegas menyatakan kinerja Kemenkumham lima tahun terakhir berhasil. Kebijakan dan cara kerja Yasonna dinilai langsung bersentuhan dengan masyarakat.

    “Saya menilai kebijakan atau kinerja Kemenkumham cukup berhasil, karena bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat,” pungkas dia.



    (REN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id