Komnas Perlindungan Anak: Pelanggan Prostitusi Anak Harus Dipidana

    Media Indonesia - 29 Januari 2020 21:29 WIB
    Komnas Perlindungan Anak: Pelanggan Prostitusi Anak Harus Dipidana
    Prostitusi. Foto: Medcom.id/Rakhmat Riyandi.
    Jakarta: Prostitusi anak di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, yang diungkap polisi tengah disorot. Ekploitasi anak masih marak karena hukuman terhadap pelaku, termasuk orang yang terlibat masih ringan.

    "Orang-orang dewasa yang mengeksploitasi anak-anak itu memanfaatkan anak-anak karena dia tahu bahwa anak-anak itu tidak boleh dihukum lebih dari 10 tahun," kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Rabu, 29 Januari 2020.

    Arist meminta modus ini harus dibongkar polisi. Apalagi, para pelaku memahami jika anak di bawah umur 18 tahun tidak bisa dihukum lebih dari 10 tahun.

    Arist menyebut prostitusi di Apartemen Kalibata dilakukan secara berkelompok atau gang rape. Pengungkapan kasus prostitusi anak bahkan dianggap tidak adil karena para pelanggan tidak pernah mendapatkan hukuman.

    Arist berharap pelanggan prostitusi tersebut dapat dipidana apabila para korban dapat membuktikannya. "Karena setiap orang yang melakukan hubungan seksual terhadap anak di bawah 18 tahun dengan bujuk rayu, tipu muslihat, kekerasan, ancaman kekerasan, dapat dipidana minimal 5 tahun," kata dia.

    Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menyebut posisi anak dalam prostitusi rentan karena selain sebagai korban, mereka juga adalah pelaku. KPAI mendorong pemerintah Provinsi DKI Jakarta agar mengembangkan apartemen ramah anak.

    "Salah satu indikatornya adalah memastikan anak-anak kita tidak tereksploitasi di apartemen dan tempat-tempat lain. Ini upaya agar apartemen kita benar-benar safety dan secure buat anak-anak kita," kata Susanto.

    Susanto meminta proses rehabilitasi terhadap para korban dilakukan secara tuntas. Dia khawatir proses rehabilitasi yang tak tuntas akan mengakibatkan korban menjadi pelaku.

    "Jadi banyak riset melaporkan 75% korban itu punya kerentangan menjadi pelaku jika tidak mendapatkan rehabilitasi secara tuntas," tegas Susanto. (Tri Subarkah/Media Indonesia)



    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id