Penolakan Praperadilan Nasabah WanaArtha Dipertanyakan

    Antara - 03 November 2020 00:50 WIB
    Penolakan Praperadilan Nasabah WanaArtha Dipertanyakan
    Ilustrasi/Medcom.id
    Jakarta: Penolakan pengadilan atas praperadilan nasabah WanaArtha Life dipertanyakan. Ahli hukum pidana, Mudzakir, menilai ada kejanggalan yang harus diungkap. Menurutnya, pengadilan harus menjelaskan alasan pengunduran peradilan yang terjadi selama berbulan-bulan dan berujung penolakan. 

    "Jika alasannya tidak kuat, pengunduran selama tiga bulan tersebut tidak lazim dan ada keanehan. Tidak wajar," kata Mudzakir, Senin, 2 November 2020.

    Pada 23 Juni, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan menolak praperadilan yang diajukan nasabah WanaArtha. Permohonan praperadilan sudah dilayangkan sejak April. Permohonan praperadilan dipicu pemblokiran seluruh rekening WanaArtha oleh Kejaksaan Agung, buntut dari disitanya sub-rekening efek (SRE) WanaArtha milik Benny Tjokrosaputro yang terjerat kasus hukum PT Jiwasraya.

    Mudzakir mengatakan para nasabah boleh mengajukan praperadilan selaku pihak ketiga yang berkepentingan terhadap keputusan jaksa menyita aset nasabah. Sebab, kata dia, nasabah bukan sebagai pelaku tindak pidana. Aset yang mereka tanamkan pun bukan berasal dari tindak pidana.

    Walaupun praperadilan ditolak. Nasabah enggan menyerah. Pada Agustus mereka mendaftarkan gugatan class action. Sejauh ini, persidangan baru dilakukan dua kali. Persidangan ketiga rencananya akan dilakukan November ini.

    Komisioner Komisi Yudisial (KY) Maradaman Harahap mempersilakan para nasabah melaporkan kejanggalan dan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan hakim. Ia mengakui ada nasabah WanaArtha yang datang dan melapor. Namun, pelaporan itu terkait perlindungan hukum kepada para pemegang polis. 

    "Laporan pemegang polis bukan soal praperadilan,” ujarnya.

    Baca: Gagal Bayar WanaArtha Terjadi Sebelum Kejagung Blokir Rekening Benny Tjokro

    Kejaksaan membekukan rekening efek WanaArtha senilai Rp4 triliun karena diduga masih terkait dengan kasus Jiwasraya dengan terdakwa Benny Tjokrosaputro. Namun, para nasabah lain merasa sangat dirugikan karena tidak ada keterkaitan apa pun dengan Benny.

    Salah satu nasabah WanaArtha, Wahjudi, mengatakan sampai kapan pun dirinya akan berusaha agar rekeningnya bisa digunakan kembali. "Kami dari pemegang polis (PP) sudah mengajukan keberatan melalui class action. Kami juga akan mengajukan surat keberatan," ujarnya. 

    Ia mengaku heran dengan sidang di PN Jakarta Selatan yang berlarut-larut. Ia membandingkan dengan persidangan kasus Jiwasraya hanya berlangsung 120 hari. 

    Hakim tunggal Merry Taat Anggarasih menggugurkan permohonan praperadilan nasabah WanaArtha pada sidang putusan di PN Jakarta Selatan, Selasa, 23 Juni 2020. "Dengan ini dinyatakan, permohonan pemohon diputuskan tidak dapat diterima. Dalam pokok perkara, praperadilan pemohon gugur," kata Merry membacakan hasil putusan.

    Arjuna Meghanada, jaksa yang ditunjuk mewakili Kejaksaan Agung, menyatakan keputusan itu masuk akal. Merujuk KUHAP Pasal 82 ayat 1 huruf D, permohonan praperadilan gugur apabila perkara pokok telah diperiksa. Perkara pokok yang dimaksud adalah persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) terkait kasus Jiwasraya yang sudah berlansung pada 3 Juni atau sebelum sidang perdana praperadilan digelar.


    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id