Kepala BPJN XII Tersangka Suap Proyek Jalan

    Faisal Abdalla - 17 Oktober 2019 01:02 WIB
    Kepala BPJN XII Tersangka Suap Proyek Jalan
    Pimpinan KPK menggelar konferensi pers penetapan tersangka - Medcom.id/Faisal Abdalla.
    Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XII Balikpapan, Refly Tuddy Tengkere sebagai tersangka suap proyek jalan di Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2018-2019. Refly ditetapkan sebagai tersangka berdasarkan bukti permulaan yang cukup.

    KPK juga menetapkan dua orang tersangka lain yakni Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional XII Balikpapan, Andi Tejo Sukmono; dan Direktur PT Harlis Tata Tahta (HTT), Hartoyo. Ketiganya terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Selasa, 15 Oktober 2019.

    "Setelah melakukan pemeriksaan, dilanjutkan dengan gelar perkara, sebelum 24 jam sebagaimana diatur dalam KUHAP disimpulkan adanya dugaan Tindak Pidana Korupsi memberikan atau menerima hadiah atau janji," kata Ketua KPK, Agus Rahardjo dalam konferensi pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Rabu, 16 Oktober 2019. 

    Ihwal suap ini berawal saat Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Kalimantan Timur mengadakan Pekerjaan Preservasi, Rekonstruksi Sp3 Lempake-Sp.3 Sambera-Santan-Bontang-Dalam Kota Bontang-Sangatta dengan anggaran tahun jamak 2018-2019. Total nilai kontrak proyek tersebut mencapai Rp155,5 miliar.

    PT HTT merupakan pemenang lelang proyek tersebut. Dalam proses pengerjaan proyek, Hartoyo disinyalir memiliki kesepakatan untuk memberikan komitmen fee sebesar 6,5 persen dari nilai kontrak setelah dikurangi pajak kepada Refly selaku Kepala BPJN XII dan Andi selaku PPK.

    Fee tersebut disetor setiap bulan baik secara tunai maupun transfer. Refly menerima setoran sebanyak delapan kali dengan besaran masing-masing setoran Rp200-300 juta. Total penerimaan mencapai Rp2,1 miliar. 

    Sementara itu, jatah uang untuk Andi diberikan melalui transfer ke rekening atas nama BSA. KPK menduga rekening itu sengaja dibuat untuk menampung fee dari Hartoyo. 

    Agus menyebut rekening tersebut dibuka pada 3 Agustus 2019. Rekening itu tercatat menerima transfer pertama kali dari Hartoyo pada 28 Agustus 2019, padahal saat itu PT HTT belum diumumkan sebagai pemenang lelang proyek tersebut. 

    "ATS juga menguasai buku tabungan dan kartu ATM rekening tersebut serta mendaftarkan nomor teleponnya sebagai akun sms banking," ujar Agus. 

    Jumlah uang yang ditransfer Hartoyo ke rekening tersebut mencapai Rp1,59 miliar. Sebesar Rp630 juta telah digunakan Andi untuk kepentingan pribadi. Andi juga disebut telah beberapa kali menerima uang secara tunai dari Hartoyo sebesar Rp3,25 miliar. 

    Semua transaksi PT HTT, termasuk pemberian fee untuk Refly dan Andi dicatat oleh Staf Keuangan PT HTT, Rosiani. Uang haram itu dicatatkan sebagai 'gaji' untuk PPK proyek yang tengah dikerjakan PT HTT. 

    "'Gaji' tersebut diberikan kepada Andi sebesar Rp250 juta setiap kali ada pencairan uang pembayaran proyek kepada PT HTT," ujarnya. 

    Dalam perkara ini, Refly dan Andi ditetapkan sebagai tersangka penerima suap. Sementara Hartoyo ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap. 

    Refly dan Andi disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

    Sementara Hartoyo disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.



    (JMS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id