KSP Desak Polri Usut Kebocoran Data 279 Juta Penduduk Indonesia

    Nur Azizah - 24 Mei 2021 19:25 WIB
    KSP Desak Polri Usut Kebocoran Data 279 Juta Penduduk Indonesia
    Ilustrasi pencurian data/Medcom.id



    Jakarta: Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Ade Irfan Pulungan mendesak Polri mengusut kasus kebocoran data 279 juta penduduk Indonesia. Kebocoran data diduga berasal dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

    "Kepada Kepolisian Republik Indonesia, untuk dapat aktif mengungkap dan menelusuri sumber 279 juta data pribadi yang di duga bocor, siapa pelakunya," kata Irfan dalam keterangan tertulis, Jakarta, Senin, 24 Mei 2021.

     



    Irfan mengatakan pengungkapan dan penelusuran sumber data itu penting, agar data yang sudah terlanjur bocor tidak disalahgunakan. Ia khawatir data tersebut dimanfaatkan untuk kejahatan siber. 

    "Saya yakin Polri mampu menelusuri sumber kebocoran 279 juta data kependudukan yang sangat meresahkan masyarakat. Kepolisian agar dapat menindak secara tegas pihak-pihak yang dengan sengaja membocorkan data-data tersebut," ujar dia. 

    Irfan menyatakan kebocoran data kependudukan masalah serius dan perlu mendapatkan penanganan prioritas. Sebab, data-data yang bocor akan menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat. 

    Baca: Marak Kebocoran Data, Kominfo Jamin Lindungi Masyarakat dari Kejahatan Digital

    "Data merupakan salah satu sumber vital yang bisa digunakan untuk kejahatan siber. Pihak tertentu bisa menyalahgunakan data yang ada untuk tindakan-tindakan ilegal yang akan sangat merugikan," tuturnya. 

    Irfan mengatakan data itu bisa digunakan untuk melakukan penipuan, pembobolan akun email dan media sosial. Data tersebut juga bisa mengakses layanan perbankan secara ilegal dan lain sebagainya. 

    "Maka, perlu diungkap siapa yang bertanggung jawab dan siapa pelakunya," ucapnya. 

    Di sisi lain, Irfan meminta BPJS Kesehatan dapat menyelesaikan dan memperbaiki sistem informasi dan teknologinya agar tidak mudah dijebol. Kasus ini sekaligus menjadi peringatan bagi seluruh jasa pelayanan lainnya.

    "Lakukan pengamanan yang berlapis terkait penggunaan data, agar tidak mudah diakses dan dijebol pihak lain untuk kepentingan-kepentingan kejahatan," tutur dia. 

    (ADN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id